Denny Siregar Ungkap Sejatinya Kaum Sumbu Pendek Yg Teriak #SaveRohingya dengan Kedangkalan Pemahaman


PENTOL KOREK TERIAK ROHINGYA

Dulu waktu awal perang Suriah, saya sempat bingung...

Kenapa kok mereka malah membesarkan #saveSuriah dengan berpatokan bahwa korban perang adalah ulah pemerintah Suriah ? Dan mereka mendukung pemberontak Suriah yang dimotori Alqaedah..

Lalu ISIS kemudian datang dengan segala kekejiannya, mereka tetap #saveSuriah dengan tetap menyalahkan pemerintah Suriah.

Lama-lama saya paham, ketika para pendukung pemberontak Suriah membawa bendera pemberontak ke Indonesia untuk mencari dukungan. Ditambah dengan donasi dan foto anak2 Suriah terbantai sambil tetap menyalahkan pemerintah Suriah yang sah.

Ternyata memang ada agenda propaganda di balik tagar #save2an. Propaganda yang berlindung dibalik foto2 korban sebagai bagian dari mencari dukungan. Bahkan banyak sekali beredar foto hoax pembantaian dengan cap yang - sekali lagi - menyerang pemerintah Suriah.

Ketika saya membuka kejadian sebenarnya, bayangkan caci maki yang saya dapat dan saya juga dijauhi oleh teman2 sekolah dulu karena "tidak punya empati kepada saudara sesama muslim" katanya...

Karena itulah saya tidak tertarik ketika beredar foto2 sadis pembantaian umat muslim di Rohingya. Bukan saya anti kemanusiaan, tapi karena kebanyakan foto itu hoax - entah dari daerah mana - yang diklaim bahwa itu pembantaian umat Budha kepada yang muslim.

Saya sudah sering melihat foto sadis yang sama yang beredar dan selalu ada di setiap kejadian apapun. Mau di Suriah, mau di Rohingya, foto sadisnya ya itu2 juga...

Entah kenapa saya mencurigai propaganda #saveRohingya itu sebagai agenda terternu untuk menyalahkan agama tertentu di Indonesia. Konflik luar dibawa kesini untuk memicu dendam di negeri ini. Kalau dibiarkan, bisa jadi akan ada pembakaran tempat ibadah sebagai wujud balas dendam yag akan meluas di negeri ini..

Kenapa saya bisa berfikir begitu ?

Karena yang teriak2 #saveSuriah untuk mendukung pemberontak Suriah adalah mereka juga yang teriak #saveRohingya. Orangnya itu2 juga. Mereka seperti membakar ilalang supaya api meluas dengan framing "kemanusiaan". Tidak mau melihat akar konflik lebih dalam, pokoknya ini masalah agama. Titik.

Sejatinya jika mau berfikir lebih luas, tagar #save itu harusnya ada di setiap pembantaian. #saveKorbanISISdiSuriah, #savePembantaianwargaYamanolehSaudi, #savePendudukPapuayangbelumdapatlistrisampesekarang, #saveJombloyangtersiksasetiapkumpulkeluargawaktulebaran...

Tapi nyatanya #save itu hanya dipakai untuk mendukung kelompok tertentu dengan alasan agama, tanpa mau melihat baju politik di belakangnya..

Kaum panik ini jarinya secepat cahaya. Ngelihat gambar sadis sedikit langsung teriak "AllahuAkbar" sambil caci maki berkepanjangan tanpa mau menyelidiki itu foto apa, kejadian dimana. Mereka terbentuk oleh framing judul yang disediakan dan langsung menshare sambil nulis dengan capslok besar2, "KITA HARUS BELA KAUM MUSLIMIN".

Gampang sekali membakar mereka, makanya disebut kaum sumbu pendek dan pentol korek...

Meski handphone yang digunakan masuk dalam kategori "smart", ternyata yang menggunakan masih dalam kategori "dumb". Begitu mudah terprovokasi dengan tanpa mau menunggu kejelasan lebih lanjut dan memahami latar belakang permasalahan..

Dan itu berlaku juga bagi orang dengan gelar sederet di belakang nama. Kebodohan akibat kepanikan tidak mengenal jenjang pendidikan. Pokoknya #save dulu, mikir belakangan...

Jika ingin mengutuk, kutuklah. Tidak perlu menyebarkan gambar2 sadis dari antah berantah seakan bangga dengan pamer kesadisan. Kayaknya pada sakit jiwa menyimpan gambar orang digorok di handphone dan menyebarkannya di media sosial...

Bicara Suriah marah2. Bicara Rohingya marah2. Bicara poligami, eh langsung ramah...

Seruput dulu kopinya biar gak bebal...

Sumber: FB Denny Siregar

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.

0 Response to "Denny Siregar Ungkap Sejatinya Kaum Sumbu Pendek Yg Teriak #SaveRohingya dengan Kedangkalan Pemahaman"

Posting Komentar