Pakai Hak Suara Orang Lain Di Pilkada Jakarta, Suparman Dijatuhi Hukuman Ini oleh Hakim! Share!


CeriaNews.com - Artikel berikut ditulis Ibu Erika Ebener sebagaimana diterbitkan di situs Seword.com:

Saya pikir tidak ada proses hukum atas kecurangan yang terjadi pada saat pemungutan suara di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Mungkin kalau putaran pertama, tidak terlalu dilihat karena, penentuan suara memang hasil dari perolehan suara di putaran kedua sebagai perolehan suara final yang menentukan siapa pemenang Pilkada Jakarta.

Begitu banyak berita dan cerita tentang praktek kecurangan dan keaneh saat pemungutan itu dan saya pikir, negara tidak menindak lanjutinya sampai ke proses pengadilan. Dan ketika membaca berita bahwa ada seorang warga luar Jakarta yang menggunakan hak suaranya di Jakarta dimeja hijaukan, saya langsung gembira!

Saya tahu, kasus yang hampir serupa tentang kecurangan peroleh suara pastu banyak dilakukan. Seperti video yang saya lihat dimana petugas TPS menyembunyikan kertas suara ke dalam kotak dus aqua, saya sempat bertanya, apakah petugas itu akan dikenakan hukuman? Tapi pertanyaan hanya sampai disana.

Walaupun hanya satu kasus kecurangan yang dimeja hijaukan, saya cukup puas. Ini bisa menjadi pelajaran bagi yang lainnya untuk tidak main-main dengan aturan, karena hukumannya cukup lumayan berat.

Ketua majelis hakim I Wayan Dirjana menjatuhkan vonis 24 bulan penjara dan denda Rp 24 juta subsider satu bulan penjara kepada terdakwa Suparman. Vonis ini diberikan atas tindak pidana dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Suparman didakwa melakukan tindak pidana pemilu dengan memakai form C6 milik orang lain.

Komisioner Divisi Hukum Panitia Pengawas Kota Jakut Benny Sabdo menganggap putusan majelis hakim masih dianggap minimal dengan mengambil hukuman paling singkat, yakni 24 bulan. Selain itu, menurutnya, vonis tersebut dinilai dapat memberi pembelajaran demokrasi.

“Vonis kasus tindak pidana pemilihan tersebut dapat memberikan pembelajaran bagi demokrasi yang jujur dan adil sekaligus memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan demokrasi dalam hajatan pilkada,” kata Benny lewat keterangan tertulis, Kamis (3/8/2017).

Vonis hakim diputuskan pada hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakpus. Sebelumnya, jaksa penuntut umum Fedrik Adhar menuntut terdakwa Suparman pidana penjara 2 tahun 6 bulan.

Suparman dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 178A UU No 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota.

Peristiwa ini terjadi pada Pilgub DKI Jakarta putaran kedua, yang digelar pada Rabu (19/4). Suparman, yang merupakan warga Lampung, memilih di TPS 54 RW 07 Tugu Selatan, Koja, Jakut. Dia menggunakan C6-KWK II milik Hasan Basri.

Suparman mengaku disuruh oleh Muni, rekan kerjanya, agar memilih di TPS 54. Kasus ini ditemukan oleh Pengawas Pemilihan Lapangan Kelurahan Tugu Selatan. Lalu, diproses sebagai temuan No. 15/TM/Panwaskota.JU/IV/2017 dugaan pelanggaran tindak pidana pemilihan.

Sebagaimana diketahui, Pasal 178A UU No 10/2016 tentang UU Pilkada berbunyi: “Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 bulan dan paling lama 72 bulan dan denda paling sedikit Rp 24.000.000 dan paling banyak Rp 72.000.000”

Ternyata dendanya besarnya juga ya? Wah ini bisa jadi himbauan pada semua orang yang ingin melakukan kecurangan untuk memenangkan pasangan tertentu, juallah suara kalian minimal seharga Rp. 30 juta minimal dan Rp 80 juta maksimal. Karena kalau tertangkap dan diadili, lalu dikenakan denda sebesar Rp 24 juta seperti Suparman, maka kalian masih punya laba sebesar Rp 6 juta. Itupun tidak cukup untuk menghidupi keluarga selama 2 tahun penjara. Jadi memang cocoknya harga 1 suara itu adalah Rp 80 juta per suara.

Mungkin menjual suara untuk ajak Pemilihan Presiden 2019, bisa jauh lebih mahal karena skalanya, skala Nasional! Kalau skala daerah saja maksimal harga per suara sebesar Rp 80 juta, untuk skala nasional, harga suara minimal Rp 100 juta !

Waduh kalau harga suara semahal itu, apa bandar masih bisa bayar? Kalau misalnya bisa bayar, berapa total modal yang dikeluarkan, ya? Lalu kalau benar-benar sampai dia menang, berapa uang negara yang harus dikorupsi untuk mengembalikan modal pembelian suara? Sungguh mengerikan!! Mungkin ini sebabnya kenapa pembangunan Indonesia begitu sulit untuk dilakukan. Lah, uangnya habis dipake bayar balik modal?!

Kura-kura pun menggeleng-gelengkan kepala !

ref. https://news.detik.com/berita/3585609/pakai-hak-suara-orang-lain-di-pilgub-dki-suparman-divonis-2-tahun

Sumber: Seword.com

0 Response to "Pakai Hak Suara Orang Lain Di Pilkada Jakarta, Suparman Dijatuhi Hukuman Ini oleh Hakim! Share!"

Posting Komentar