Sekelumit Kisah Masa Lalu Chester Bennington ‘Linkin Park’ Yg Meninggal Bunuh Diri


Artikel berikut ditulis oleh Ibu Rahmatika sebagaimana diterbitkan di Seword.com:

Chester Bennington ‘Linkin Park’ Meninggal Dunia, Duka Kami Generasi 90an


Bagi generasi 90an seperti saya tentu mengenal Chester Bennington. Atau jika Anda lupa-lupa ingat siapa dia mungkin langsung paham begitu disebutkan nama sebuah grup band yang sangat populer di masa remaja saya itu, Linkin Park.

Berita duka yang saya baca di media sosial dini hari ini cukup membuat saya merasa kosong. Numb, seperti judul salah satu lagu mereka yang sangat populer. Chester ditemukan tewas bunuh diri di kediamannya kawasan Palos Verdes Estate, California, Amerika Serikat. Menurut berita yang dilansir berbagai media sang penyanyi yang kini juga menjadi vokalis Stone Temple Pilots setelah meninggalnya Scott Weiland, vokalis sebelumnya, yang ditemukan tewas di atas bus saat tur bersama The Wildabouts.

Dua bulan lalu Chester masih hadir dan memberikan tribut terakhir saat pemakaman sahabatnya, Chris Cornell vokalis Soundgarden dan Audioslave, yang meninggal juga karena bunuh diri. Cukup mencengangkan memang menyadari betapa banyaknya bintang musik dunia yang mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.

“Di tahun 2016 saya punya pilihan berhenti minum (alkohol) atau mati. Saya melakukan konseling dan mereka sangat terbuka dan menceritakan perasaan emreka. Saya tidak menyangka bahwa yang telah saya jalani adalah masa-masa menyeramkan. Saya tahu saya punya masalah dengan kecanduan alkohol, obat-obatan, dan perjalanan hidup yang ‘gila’ tapi saya tidak menyangka ini sangat berpengaruh bagi orang sekitar saya hingga saya diberi tahu ‘ini lho kamu yang sebenarnya’. Ini mengagetkan. Mereka bilang saya seperti punya dua kepribadian : Chester dan orang yang menyebalkan. Saya tidak mau jadi yang kedua itu.”

Sumber : http://www.huffingtonpost.com/entry/chester-bennington-dead-dies_us_5970f163e4b062ea5f9097f8?ncid=tweetlnkushpmg00000067

Chester memang mengakui bahwa dirinya mengalami depresi karena perceraian orangtuanya saat Ia masih berusia 11 tahun dan bahkan berkali-kali mengalami pelecehan seksual saat masih anak-anak. Dalam wawancara dengan The Guardian di tahun 2011 Chester pernah menceritakan bagaimana saat ia muda sering menerima pukulan dan perlakuan seksual yang tak mengenakkan yang tak seorang pun ingin itu terjadi.

Pada tahun 2008 ia juga pernah membuat pengakuan pada sebuah majalah bahwa beberapa orang yang lebih tua darinya mulai melecehkannya di usia 7 tahun. Dimulai dari sekedar sentuhan hingga hal yang lebih gila. Ia pun dipukuli dan dipaksa melakukan hal yang ia tak mau. Akhirnya ini sangat menganggu kepercayaan dirinya dan sepertinya itu membekas hingga sekarang meski ia adalah superstar. Selama 6 tahun ia menderita tapi tetap diam karena takut dengan apa yang terjadi jika mengaku. Ia takut dengan cap bahwa anak laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual akan dilabeli sebagai gay. Ia juga takut dianggap berbohong. Itu betul-betul neraka dalam hidupnya.

Dan ternyata rasa trauma dan depresi Chester tak berhenti begitu saja meski Ia beranjak dewasa dan sukses di karier bermusiknya. Ini lho kenapa saya juga sangat tegas dan masif beropini tentang berbagai kasus pembullyan termasuk yang terjadi di Gunadarma kemarin. Tekanan mental yang ditujukan pada seseorang seolah membuat kebal korbannya, tapi sesungguhnya kita tak pernah tahu sedalam apa luka yang ditimbulkan. Dan berbeda dengan penyakit lain yang tanda dan gejalanya mudah terlihat jelas, mereka yang mengalami depresi seringkali tak menyadari pun demikian dengan orang-orang di sekitar mereka.

Kita mungkin selama ini seringnya mendengar orang bunuh diri karena frustrasi hidup miskin, patah hati, dll. Tapi coba cermati akhir-akhir ini makin banyak alasan orang melakukan hal ini. Ada yang karena tak kuat menahan penyakit yang diderita, ada yang sepertinya tidak ada masalah tapi mengambil jalan pintas. Dan mereka yang hidupnya makmur, bergelimang harta, dan popularitas pun banyak yang juga melakukan ini. Acapkali itu bukan karena masalah yang timbul baru-baru ini melainkan masalah lama yang sepertinya belum bisa selesai dan masih menjadi ‘bayang-bayang’.

Bahkan seorang Chester pun sebetulnya sudah menyelipkan pesan-pesan yang mengarah pada potensi dirinya melakukan aksi bunuh diri.

Sometimes solutions aren’t so simple
Sometimes goodbye’s the only way

[Shadow of The Day – Linkin Park]

Do you feel cold and lost in desperation?
You build up hope, but failure’s all you’ve known
Remember all the sadness and frustration
And let it go. Let it go

[Iridescent – Linkin Park]

Itulah mengapa awareness atas kesehatan mental sangat penting. Apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita pasti akan memberi pengaruh ke masa depan. Selain sadar potensi depresi atas diri kita sendiri, kita juga sebaiknya peka jika ada orang di sekitar kita yang mengalaminya. Depresi yang ditangani dengan baik sejak awal akan mengurangi potensi berkepanjangan apalagi sampai terjadi bunuh diri seperti ini.

So long, Chester. Dan mimpi saya untuk bisa nonton Linkin Park sepertinya akan pupus. Dulu saat kamu manggung saya belum punya cukup uang untuk pergi ke konser kalian. Akhirnya itu hanya saya masukkan ke bucket list saya, things to do before I die. Dan ternyata justru sekarang kamu pergi. Kini bernyanyilah di surga dan lepaslah dari segala depresi yang menghantui.



Sumber: Seword.com

0 Response to "Sekelumit Kisah Masa Lalu Chester Bennington ‘Linkin Park’ Yg Meninggal Bunuh Diri"

Posting Komentar