Membongkar Keterkaitan Mantan Menteri Sekaligus Kader PKS di Penggerebakan Gudang Beras


Artikel berikut ditulis oleh Bapak Hans Sebastian sebagaimana diterbitkan di situs Seword.com:

Setelah polisi berhasil mencyduck, ups, maksud saya menciduk para mafia narkoba asal Taiwan (bukan Cina, menurut dedengkot PKS, Hidayat Nur Wahid), polisi pun menyita beras di Bekasi Sebanyak 1.161 ton beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di Bekasi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun menduga perusahaan tersebut sudah merugikan negara ratusan triliun. Angka yang cukup gila untuk dibayangkan. Kita tahu bahwa di dalam Tax Amnesty, 4ribuan triliun berhasil dideklarasi, dengan pemasukan pajak nilainya sekitar 135 triliun. Jadi secara tersirat, Tito mengatakan bahwa kerugian negara akibat penipuan mafia beras ini setara, bahkan lebih dari repatriasi pajak yang dilakukan oleh warga negara Indonesia.

“Ini nggak main-main. merugikan masyarakat dan negara, sampai nilainya ratusan triliun (rupiah),” kata Tito saat penggerebekan, Kamis (20/7/2017) malam.

Entah apa yang Tito katakan benar atau tidak, saya yakin, penipuan yang sudah lama dilakukan oleh PT IBU, bukan nilai yang sedikit. Pabrik yang digerebek berlokasi di Jalan Rengas km 60 Kecamatan Kedung Bekasi, Jawa Barat. Tito yang bersama menteri pertanian, Amran Sulaiman dan Ketua KPPU, Syarkawi Rauf mendatangi lokasi tersebut untuk melakukan penggerebekan beras.

“Kadar karbohidrat dalam kemasan tidak sesuai dengan isinya. kontennya ditulis premium padahal isinya non-premium,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat penggerebekan, Kamis (20/7/2017) malam.

Bajingan-bajingan atau para mafia beras PT IBU ini menjual beras medium dengan harga beras premium. Beras yang seharusnya untuk subsidi alias murah, dikemas seperti beras premium agar nilai jualnya sangat tinggi. Modus tersebut adalah mengemas beras subsidi yang dikenal dengan jenis IR64 dengan label cap Ayam Jago, dan Maknyuss.

“Padahal beras IR64 adalah beras medium yang disubsidi pemerintah dengan harga Rp 9 ribu per kilogram. Setelah dibungkus dan dilabeli, mereka jual seharga Rp 20 ribu,” tutur Tito.

Bayangkan saja mereka berani melakukan tindak pidana korupsi beras dengan cara menaikkan dua kali nilai sesungguhnya. Para mafia beras ini seharusnya dihukum seberat-beratnya, sehingga mereka tidak memiliki hari depan.

Mengapa saya keras terhadap hal ini? Karena saya terlalu sering melihat warga miskin yang harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi, sedangkan melihat para pengelola beras sedang menikmati uang hasil korupsi dengan pemalsuan jenis beras tersebut. Bajingan kalian semua!



Siapa manusia yang bertanggung jawab terhadap ini? Mari kita lihat kutipan-kutipan yang saya temukan dari website ‘tigapilar.com’
Sragen, 24 Maret 2014 – Pada hari ini tanggal 24 Maret 2014, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (yang disebut “TPSF”) telah meresmikan pembukaan salah satu anak perusahaan divisi beras, yaitu pabrik beras PT. Sukses Abadi Karya Inti (yang disebut “SAKTI”). Pemotongan tumpeng dan pita yang dilakukan oleh Bp. Joko Mogoginta selaku Direktur Utama TPSF dan didampingi oleh Bp. Rusman Heriawan (Wamentan), Bp. Agus Fatchurrahman (Bupati Sragen) dan Bp. Anton Apriyantono (Komisaris Utama TPSF) menandai dimulainya proses produksi yang secara bertahap akan beroperasi secara komersial di Pabrik Beras SAKTI.

Dengan menargetkan 5 % dari pasar beras nasional di Tahun 2020, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk akan terus menambah kapasitas produksi beras. Pabrik SAKTI merupakan pabrik beras ketiga di lingkungan PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk, menyusul 2 Pabrik Beras sebelumnya PT. Jatisari Sri Rejeki dan PT. Indo Beras Unggul yang masing – masing mempunyai kapasitas produksi beras sebesar 120.000 Ton beras per tahun yang membutuhkan bahan baku sebanyak 225.000 Ton gabah kering panen atau setara dengan luasan sawah 20.000 Ha yang dipanen dua kali setahun. SUMBER
Simak lagi ini…… Masih ada data yang lebih seru.

Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS (lahir di Serang, 5 Oktober 1959; umur 57 tahun) adalah Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ia adalah staf pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak tahun 1982 hingga 2011.

Berbagai penghargaan telah diperoleh, di antaranya: bintang medali Mahaputera Adipradana dari pemerintah Republik Indonesia pada 2010, dan penerima beasiswa Bank Dunia pada tahun 1988-1992. Aktivitas sebagai konsultan untuk berbagai perusahaan pangan banyak digeluti. Anton, tercatat sebagai Presiden Komisaris PT. Pertani dan PT. TPS Foods Tbk, komisaris PT. Dunia Pangan, anggota Governing Board of TUV Rheinhald International Indonesia, dan Komisaris Independen pada Bakrie Sumatera Plantation. SUMBER

Pabrik beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU), adalah anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera. Presiden Komisaris adalah Anton Apriyantono sejak 2012 – sekarang. Anton Apriyantono ini mantan menteri pertanian dari PKS. Presiden Komisaris sangat berkuasa loh, bisa memberhentikan Direktur.

Ternyata mudah sekali mengusut siapa orang-orang di balik tindakan pemalsuan beras ini. Dia adalah mantan menteri pertanian di era SBY, yang merupakan kader dari partai korupsi sapi, PKS. Ternyata bukan hanya sapi yang dikorupsi, melainkan beras! Ia bekas dosen IPB juga loh.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut:

https://seword.com/author/hans-sebastian/

https://news.detik.com/berita/d-3568234/sita-1161-ton-beras-kapolri-negara-rugi-ratusan-triliun-rupiah

https://news.detik.com/berita/d-3568200/pabrik-di-bekasi-digerebek-1161-ton-beras-disita

Sumber: Seword.com

0 Response to "Membongkar Keterkaitan Mantan Menteri Sekaligus Kader PKS di Penggerebakan Gudang Beras"

Posting Komentar