Plt Gubernur Temukan Kejanggalan Pertanyaan Soal Rusun Yg Terdengar Begitu Menderita! Share!


Artikel berikut disadur dari tulisan Bapak Gusti Yusuf sebagaimana diterbitkan di situs Seword.com:

Debat pamungkas telah berakhir namun masyarakat Jakarta merasa tidak puas dengan format debat tersebut. Format yang menghadirkan komunitas untuk bertanya mengundang kecurigaan adanya kecurangan yang sengaja dilakukan KPUD untuk memojokkan Ahok.

“Dari jumlah 10 ribu penghuni, kalau yang ngomong hanya dua atau tiga orang, kan tidak bisa kita katakan (seluruhnya). Hasil evaluasi kami, lebih dari 90 persen penghuni rusun mengatakan sangat happy,” kata Sumarsono di Balai Kota, Kamis (13/4).

Survey yang dilakukan oleh Pelaksana tugas Gubernur Sumarsono menunjukkan bahwa 90 persen penghuni rusun puas. Artinya ini bisa  menjadi indikasi bahwa pertanyaan saat debat tentang keluhan penghuni rusun dipilih untuk memojokkan Ahok. Kenapa mesti memilih kelompok yang sedikit, hanya yang 10 persennya padahal ada 90 persen yang puas? Terlihat sekali bahwa ada keinginan untuk menjelekkan kinerja Ahok. Masyarakat diharapkan berpikir bahwa semua yang tinggal di rumah susun hidupnya menderita.

Berikut pertanyaan perwakilan dari penghuni rumah susun

“Pak, kami ini perwakilan Tegal Rusun Jati Negara, yang direlokasi akibat normalisasi Kali Ciliwung. Kami menderita tidak saja secara ekonomi tapi juga secara mental. Kami benar-benar merasa drop. Saat ini kami tinggal di rusun yang sering bocor, padahal kami harus menanggung beban biaya bulanan terus menerus. Bila Bapak terpilih, Apakah Bapak tega untuk terus menerus membebani kami biaya rusun yang bocor ini?

Padahal menurut Sumarsono, keluhan Sunarto, salah seorang warga Rusun Jatinegara yang mengaku resah dengan unit rusun yang dihuninya karena rusak dan bocor, bukan berarti seluruh warga yang menghuni rusun di Jakarta tidak bahagia.

Artinya ini sangat kontras sekali, seperti ada upaya untuk membangun opini bahwa mereka yang tinggal di rumah susun hidupnya menderita. Dan lebih parah lagi, ini terlihat seolah-olah pembenaran atas opini Anies yang selama ini dia bangun.

Selain itu soal perawatan infrastruktur tidak sepenuhnya dibebankan kepada Pemerintah provinsi DKI Jakarta. Ada yang diambil dari uang iuran, nah masalahnya suka ada yang belum melunasi iuran pemeliharaan

“Karena biaya perawatan rusun itu diambil dari iuran mereka. Sementara, masih banyak yang belum melunasi iuran. Jadi, bagaimana bisa lingkungan dijaga?” kata Sumarsono.

Selain itu juga muncul masalah budaya dan menurut Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, ia menduga ada faktor budaya yang membuat penghuni rusun tak betah. Persoalan ini, menurutnya, cuma soal waktu.

“Harusnya ketika pindah ke lokasi yang lebih jauh, berubah juga karakter pekerjaannya. Semula tinggal di pinggir kali, kerjaannya cari ikan saja. Ketika bergeser, ya harusnya dilatih mengembangkan keterampilan sendiri. Tapi, pasti butuh waktu,” ujarnya.

Dimana-mana memang begitu, namanya juga menghadapi perubahan pasti harus adaptasi dulu. Bukan serta merta artinya menderita tapi hanya perlu adaptasi saja. Sama seperti mahasiswa yang harus tinggal ngekost diawal tahun, pasti sering pulang kerumahnya lagi kalau perlu tiap minggu. Tapi setelah bisa beradaptasi, lama-lama malah semakin malas pulang kampung.

Ahok sendiri telah menanggapi keluhan perwakilan warga Rusun Jatinegara tersebut. Dia mengakui kualitas rusun di kawasan tersebut memang buruk dan tak dapat menutupi fakta bahwa hampir 30 persen penghuni rusun tak mampu membayar sewa.Namun, ia menegaskan, uang yang dibayarkan warga setiap bulan semata digunakan untuk biaya perawatan atau retribusi lingkungan.

Lebih lanjut, Ahok berkata akan membongkar tembok pembatas rusun Jatinegara dan menggantinya dengan kios untuk digunakan sebagai tempat usaha warga rusunawa.

Seperti yang diungkapkan oleh Ahok, memang sulit memuaskan semua pihak. Sehingga pasti ada saja yang tidak puas. Cuman memilih kelompok kecil untuk disiarkan secara nasional disaat debat Pilkada tentu akan menimbulkan kecurigaan. Apalagi sebelumnya sudah kena teguran akibat pelanggaran etika.

Selain komunitas rumah susun, komunitas lain yang hadir adalah komunitas nelayan, transportasi, dan pengusaha UKM. Kita bisa lihat bagaimana pemilihan komunitas ini sepertinya cocok dengan isu-isu yang menjadi sorotan paslon nomor 3.

Indikasi keberpihakan dari KPUD rasanya sudah banyak, mulai dari pemasangan foto profil aksi 212, menelantarkan Ahok saat rapat, hingga debat kemarin. Oleh karena itu masyarakat terutama pendukung Ahok harus waspada dari upaya-upaya kecurangan yang bisa muncul saat hari pemilihan nanti.

Sumber: Seword.com

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.

3 Responses to "Plt Gubernur Temukan Kejanggalan Pertanyaan Soal Rusun Yg Terdengar Begitu Menderita! Share!"

Thomas Tanasale mengatakan...

Seharusnya dicari dasar hukumnya dan alat buktinya dan dilanjutkan gugat kpud

uud mengatakan...

Politik memang ngeri2 sedap. Lombok saja bisa manis, bisa pahit dan bisa pedas

JoAn mengatakan...

yang penting....
saat skarang....
stelah huru hara berlalu....
warga DKI semoga lebih dewasa....
lebih sadar.....
untuk mengedepankan kpentingan umum daripada pribadi atau golongan...
memahami bahwa pemilu ini urusan negara bukan agama....
jadi jangan mau dipengaruhi isu sara...
pilih siapapun karena secara umum tokoh tersebut lebih jujur... pekerja keras demi kemajuan DKI dan NKRI

Posting Komentar