Mengharukan! Surat Relawan Ahok untuk Anaknya Yg Kristen Ini Buat Semua Orang Menangis Sedih! Share!


Surat Untuk Baby K
(Oleh Birgaldo Sinaga)

Dear My Baby K..

Papa mau cerita untukmu. Cerita tentang mengapa Papa selalu ada di Jakarta. Saking seringnya Papa tinggalkanmu kamu jadi tahu kalo naik sawat itu pasti pergi jauh. Tapi kalo naik motor pergi sebentar. Kalo kamu bilang "Papa naik sawat ya" itu artinya Papa harus membujukmu dengan bermain pesawat terbang. Kamu naik ke bahu Papa lalu kita keliling rumah dengan suara meniru sawat terbang.

Anakku Baby K...
Hari-harimu tidaklah bisa kudampingi setiap hari. Tidak akan bisa kembali papa dapatkan waktu emas bersamamu itu. Kadang kamu begitu cerewet meminta papa menemanimu seharian bermain. Bermain rumah-rumahan. Habis itu kamu tarik papa main kuda-kudaan. Lalu main umpet-umpetan. Pasti kamu rindu ya karena ditinggal lama.

Saat malam menjelang tidur kamu bahkan dengan nada tinggi memanggil Papa agar ikut berdoa tidur. Doamu lucu. Singkat. Papa catat hanya 10 detik. Papa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Yang terdengar seperti orang menggumam. Tapi Papa tahu kamu sedang mendoakan keselamatan dan perlindungan Tuhan menjaga rumah kita dari orang jahat.

Anakku Baby K...
Berat memang meninggalkanmu saat kamu sedang lucu-lucunya. Tapi sesungguhnya Papa ingin menuliskan cerita tentang perjuangan Papa agar kamu kelak bangga anakku. Papa sedang berjuang agar kelak kamu bisa punya mimpi yang sama dengan si Aisyah temanmu untuk menjadi gubernur di seluruh Indonesia. Papa ingin kamu punya mimpi yang sama dengan si Ahmad anak Pak Abdullah itu agar bisa menjadi Presiden Indonesia.

Mimpimu itu ingin papa perjuangkan karena papa percaya pada konstitusi bangsa. Semua anak bangsa sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Setara, sejajar tanpa kecuali. Pada diri Ahok minoritas China Kristen itu sejarah sepertinya akan tertoreh. Papa hadir berjuang dengan sesama anak bangsa bukan karena Ahok sama-sama seagama dengan papa. Namun karena nilai kebangsaan dan keadilan sedang diperjuangkannya.

Anakku Baby K...
Kemarin Ahok tidak menang. Ia gagal menorehkan sejarah pembuka. Ia kalah setelah hujan peluru hujatan, caci maki, sumpah serapah memberondong dadanya hingga remuk tidak bertulang. Entah apa yang bisa membuat Ahok masih bisa bertahan. Papa tidak tahu.

Melihat kejam dan bengisnya apa yang dialami Ahok, Papa jadi kecut sendiri. Kecut dan ciut nyali. Papa malu jadinya. Bagaimana mungkin Papa membiarkanmu memiliki mimpi menjadi pelayan publik jika nilai idealismemu kelak dianggap nilai kafir penghuni neraka jahanam haram jadah?

Anakku Baby K...
Dunia memang tidak adil. Darah dan air mata kakek nenekmu ada dalam pendirian republik ini. Tapi kini seakan darah dan air mata memperjuangkan kemerdekaan ini hendak dihapus oleh manusia rasis dan penuh kebencian.

Papa tidak mengerti dan tidak tahu mengapa bisa terjadi. Dulu tidak begini anakku. Dulu masa kanak kanak papa mereka teman teman papa adalah malaikat bagi papa. Kini mereka menatap buas penuh auman kebencian meneriakkan kafir..kafir...kafir.. dengan penuh kebencian. Apa salah kita terlahir dari rahim ibu yang berbeda suku dan agama? Apa dosa kita tercipta oleh Allah Yang Maha Kuasa dengan perbedaan iman dan etnis? Why?

Anakku Baby K..
Entah bangga atau kecewa papa mau bilang berhentilah bermimpi punya cita dan mimpi menjadi gubernur atau presiden. Bumi tempatmu ini lahir bukanlah bumi nusantara yang dulu. Nusantara tempat nenek moyang kita berburu babi dan rusa tanpa makian dan hinaan. Kini bumi nusantaramu penuh cacian kutil babi bagi kita yang tidak sefaham dan seagama dengan mereka.

My Baby K...
Papa hanya ingin kau tahu anakku..kelak ketika kau dewasa, Papa hanya ingin melihatmu terbang tinggi dengan sayap kokoh mengangkasa ke belahan dunia dimana cinta, harmoni dan keberagaman menjadi rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Pencipta.

Terbanglah anakku...bawalah cinta nan lembut kepada sesamamu tanpa peduli apa agama dan sukunya.
Maafkan papa yang telah lama meninggalkanmu.
Peluk cium sehangat mungkin.

Your papa
Birgaldo Sinaga

Sumber: FB Birgaldo Sinaga

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.

27 Responses to "Mengharukan! Surat Relawan Ahok untuk Anaknya Yg Kristen Ini Buat Semua Orang Menangis Sedih! Share!"

Robby Subarly mengatakan...

Salut untuk Birgaldo Sinaga ! ..
Jangan rusak mimpi indah yg kau tanamkan pada anakmu hanya karena segerombolan orang yg berfikiran sempit ! Biarkan dia tetap yakin dgn keindahan Pertiwi kita yg telah kau tores didadanya...
Menjadi baik dan terbaik tdk cukup hanya diucapkan dimulut, tp hrs dibuktikan oleh ahlak dan perilaku...
Bagiku agamaku, bagimu agamamu, tp kita saudara sebangsa dan setanah air.
Tidak ada yg lebih baik dimata Tuhan, kecuali yg memberi manfaat dan kebaikan bagi sesamanya. Tetaplah bertahan dgn mimpi indahmu dan wujudkan. Terima kasih untuk suratnya yg memberi inspirasi.

Rheina Sachliana mengatakan...

Salut Bang Birgaldo. Tak bisa menulis panjang, karena saya sibuk meredakan keharuan saya. Tapi apa pun yang sudah abang lakukan, insyaallah akan berbuah manis. Saya hanya bilang, "bang, mungkin tahun 2017 tanah air ini belum siap, tapi tetaplah percaya akan kasih Tuhan yang akan membuat manis semuanya pada waktunya. Mungkin belum sekarang, tapi mungkin saja di tahun-tahun nanti harapan itu bisa saja ada kembali". Salut atas semua yang abang lakukan bang. Salam cium untuk Baby K

Joko Putro mengatakan...

Indonesia ku,jangan menyerah dgn mereka yg anti Pancasila dan bhinneka tunggal Ika.....jayalah NKRI...

Sammyr MG mengatakan...

Mari kita jaga tetap persatuan dan kesatuan bangsa

Eddy Mahadi mengatakan...

emua org punya hak yg sama utk menjadi apa yg dia cita cita kan di indonesia, tidak ada ras yg lebih baik dimata Allah, kita tdk boleh menyerah dgn kekalahan ahok, seribu kali kalah pun tidak akan menyurutkanku menyerah untuk berjuang demi persamaan hak dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Samuel Rhine mengatakan...

Tetap semangat bung Birgaldo, semoga perjuanganmu bisa dinikmati oleh generasi penerus kita.

CmS Group mengatakan...

Semoga tercapai impian nya...

Rico Parapat mengatakan...

Saya punya kegalauan yg sama, dan terlalu mencintai negri ini untuk sekedar berpikir berpisah. Syukur lingkungan dan teman saya bukanlah kelompok pembenci. Meski diakui perjuangan anak saya jauh lebih berat dibanding papanya

Sangkakala Abadi mengatakan...

Menyentuh. Saya punya kekuatiran yang sama. Tapi kita tidak boleh menyerah. Tegakkan konstitusi dengan tidak hanya mengeluh dan ketakutan. Kita peduli dengan tetangga kita, lihat, kalo ada yg tidak beres, laporkan ke pihak berwenang, dan ikuti sampe tuntas

Gopong sinaga mengatakan...

trimakasih kawan amaparaku birgaldo sinaga semoga tulisanmu ini bermanfaat buat orang yang belum ngerti arti daripada indahnya parsaudaraan itu.

Indah Putriyanti mengatakan...

Katanya Bhineka Tunggal Ika... jgn sampai anak cucu kita lupa atau tak paham lagi maknanya...krn yg terjd tdk spt semboyan itu lagi.

Saverius Jakang mengatakan...

Terharu membaca surat ini.

Memang betapa cepatnya orang tersinggung hanya karena masalah agama.
Mereka bilang, agama itu masalah yang sensitif.
Tetapi sebenarnya, akan lebih tepat kalau dikatakan bahwa itu hanya masalah perasaan mereka yang terlalu sensitif.
Ketika logika dan akal budi mati akibat perasaan yang sensitif dan kekanak-kanakan, maka emosi akan merajai diri kita dan membawa kita kepada jurang kesalahpahaman dan kebencian.

Iman dan Akal budi adalah sepasang sayap yang membawa kita kepada kebenaran yang lebih tinggi. Jika salah satunya mati, maka kita akan jatuh dan semakin jauh dari kebenaran.
Jadi, hadapi semuanya dengan senyum termanis dan pesembahkanlah doa bagi sesamamu tanpa memandang SARA.

Hidup itu indah jika kita terus memakai Iman dan akal budi kita dengan bijaksana.
Jadilah orang-orang yang memegang teguh Iman kita dengan cara yang benar, dengan sikap yang ceria dan menjadi sukacita bagi orang lain dimanapun kita berada tetapi tanpa berkompromi masalah Iman.
Lihatlah orang sebagai manusia yang sama dengan kita.
Jangan dari label dan busananya.
Jangan dari agama dan sukunya.
Jangan melihat apakah mereka ini berjilbab atau berkalung salib, berjubah rahib atau ala anak punk.
Kita semua adalah sama.
Seperti Allah menerbitkan matahari bagi semua orang, seperti Kristus menurunkan hujan tanpa memandang, maka hendaknya kita mengasihi semua orang tanpa perkecualian (memandang SARA).

Oleh karena itu, mari kita tekun membangun tanah air kita demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa, mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera, sehingga tanah air yang kita diami di dunia ini selalu mengingatkan kita akan tanah air surgawi, tempat kita akan berbahagia abadi bersama Allah.

Semoga disetiap ucapan dan tindakan kita hari ini menghibur bagi jiwa-jiwa yang terluka.

 

abraham seko mengatakan...

Salut buat kamu yang menulis surat ini.. mari kita terus berjuang untuk keadilan sesungguhnya.yakin dan percaya segala sesuatu indah pada waktunya karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Novi Eduart Nicolaas mengatakan...

Beban yg sama pun kami rasakan. Haruskah anak kami tumbuh besar dgn teriakan kafir disana-sini? Tidak!!! Sampai kapan pun akan kami lawan, kalian tak pantas berkembang biak di negeri Bhineka Tunggal Ika ini.

mst Manullang mengatakan...

Bagi semua anak muda yg percaya akan kekuatan Bhinneka Tunggal Ika, berjuanglah, kembalilah ke Ibu pertiwi saat perut Ilmumu kau rasa sudah cukup terisi. Berikanlah yang pantas pada tanah air kita ini dengan membangun dan mencerahkan langit2 kita yang mulai gelap tertutup awan-awan kebencian. Kamu semua punya hak untuk lari dan menyelamatkan garis keturunan kalian masing2 yang sedang khawatir untuk menancapkan tunas yg sudah tumbuh kuat di tempat asing itu. Percayalah, kami perlu kamu semua. Memang, badai pasti berlalu, tapi salahkah ibu pertiwi menuntut kalian ada di sini ketika dia luluh lantak ditelanjangi teriakan-teriakan anak-anaknya sendiri yang mengaku berbakti itu. Alangkah bahagianya diriku jika memang raga ini harus terbakar dan membusuk lebih dulu sebelum impian2 itu terlihat oleh mataku, tapi dapat membakar kembali bara dalam diri kalian yang mulai padam itu.
Salam dari satu antara kalian, yang bermimpi indah tentang Negeri kita

cholis nur mengatakan...

Sungguh aku terharu bang..
Walaupun aku termasuk yg mayoritas namun aku merasakan kepedihan yg engkau rasakan
Sungguh negri ini sedang tercabik-cabik oleh segerombolan orang yg merasa paling beragama namun prilakunya sungguh jauh dari nilai agamanya
Sesaat aku berfikir sudah hancurkah nilai pancasila dan kebinekaan kita sesama anak bangsa
Namun aku tetap yakin tuhan yg maha kuasa punya rencana lain yang lebih baik untuk bangsa kita
Tetaplah semangat dalam berjuang bang

Indonesia Bersatu mengatakan...

Sangat Fakta dan Benar apa yang lae sampaikan dalam surat ini, saya juga kadang sedih melihat Anak2 yang sedang bermain ceria dirumah...dan berpikir, Bagaimana dengan masa mereka nanti...Penyebaran kebencian selalu terjadi...! Negeri ini tidak seperti dulu lagi...paham kebencian dari sekelompok orang telah menyebar luas kemana2...bahkan sudah sangat pengaruh untuk bertetangga (sudah tidak seperti dulu lagi). Kita slalu berdoa, semoga kita kembali seperti dulu kala, dimana Bhineka Tunggal Ika sangat kita pegang teguh dalam berbangsa dan bernegara. tidak ada kebencian... sama2 membangun bangsa dan negara...! mudah2an, kelompok2 yang selalu menyebar luaskan kebencian, terbangun dari tujuan2 busuk yang ada dipikirannya... Semua Agama tidak ada yang menebar kebencian, hanya salah pemahaman tetapi merasa benar dan dibenarkan...! butuh kerja keras dari para pemuka Agama untuk mengembalikan kembali kepemahaman yang benar... sehingga Agama benar2 menjadi Sarana untuk memuja dan memuliakan sang pencipta langit dan bumi dan segala isinya... bukan sebagai pemecah...! Sang Pencipta menciptakan keberagaman dibumi supaya terlihat Indah, bukan supaya terlihat kacau...! JAdi lae, kita jalani kehidupan, berusaha dan bedoa serta berserah pada sang Pencipta, semoga kita dapat hidup berdampingan dalam keberaneka ragaman suku, bahasa dan Agama ditanah yang dititipkan buat kita berpijak (BUKAN MILIK SIAPAPUN) yaitu Repoblik Indonesia. NKRI HARGA MATI

Palia Melia mengatakan...

ternyata sdr Brigaldo sdh ungkapkan perasaanku,kegalauan yg sama menyangkut masa depan anak keturunan kita..lihat makam pahlawan sana bermacam agama,ras,suku ada disana, nggak tergantung persentase mayoritas/minoritas,..situasi skrg ini bisa terjadi krna pelemahan pemahaman konstitusi negara UUD45 dan ideologi Pancasila Bhinneka Tunggal Ika dan makin menguat nya pengaruh ideologi luar..jargon ketidak adilan,kesenjangan ekonomi dll kencang di suarakan ,seolah olah hanya menimpa kaum yg namanya mayoritas, pada hal masalah itu masalah kita semua..lihat di papua, sudut2 tanah batak sana, NTT dll ada banyak juga miskin dan marginal walau mungkin kaya dari segi rohani...mari lakukan sekarang sebagai mana yg dilakukan generasi pejuang kemerdekaan dulu gandeng tangan utk bangun negara dlm suasana kebersamaan hak dan kewajiban yg sama.semoga Tuhan tetap berkati NKRI .

luis rambung mengatakan...

Semua itu kita ambil hikmahnya. Jangan membalas dengan kebencian. Marilah kita bersama sama membangun kembali bangsa yang sudah tercabik-cabik ini agar anak cucu kita masih dapat mengenal bhineka tunggal ika.
Yang terjadi sekarang ini sejak adanya reformasi hanya karena kepentingan srkelompok orang saja.

boy name mengatakan...

Percayalah bang...semua krn ijin Tuhan. Saya yakim suatu saat indah pd wktunya.

syadi mengatakan...

kekhawatiran kalian mengikis keyakinan adanya hal yg baik dari negri ini,,,,

Kemex Tours mengatakan...

Ijin share bang

Chai You Ya mengatakan...

Lahir sebagai keturunan Cina di Indonesia tidak pernah menjadi pilihan saya. Beberapa kali saya pun tergoda untuk berpikir mengapa kakek buyut saya meninggalkan negara asalnya, China, dan memilih Indonesia sebagai tempat tinggalnya yang kelak menjadi tanah kelahiran anak cucunya, termasuk saya. Seandainya saat itu kakek buyut saya tahu jika keturunan-keturunannya akan terus dianggap asing di Indonesia, apakah ia akan memilih negara lain saja yang lebih menerima keberagaman?

Saudara sebangsaku yang beretnis Batak, Jawa, Manado, Papua, dll, dari marga yang tersemat pada nama kalian dapat dengan mudah dikenali latar belakang etnismu. Tapi pernahkah kalian sadari, untuk nama saja kami tidak diperbolehkan menggunakan nama Chinesse kami sejak zaman orde baru, bahkan marga pun harus kami modifikasi sedemikian rupa, sehingga nama kami "berbau Indonesia". Sebut saja marga "Wong", harus dimodifikasi menjadi "Wongso", Marga "Tan" harus dimodifikasi sedemikian rupa menjadi "Tanadi", "Tanuwijaya", atau mungkin yang lebih familiar, yaitu "Tanusoedibyo"? Marga "Chen", yang bahkan harus dimodifikasi menjadi "Cendana" dan masih banyak marga lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Kita semua tahu bahwa nama merupakan identitas seseorang. Jika dari nama saja tidak ada pengakuan, tidak heran jika identitas kami sebagai bangsa Indonesia pun sulit mendapat pengakuan yang utuh.

Tidak hanya "penistaan nama", "penistaan bahasa" pun terjadi pada zaman orde baru yang berakibat warga keturunan selanjutnya jarang yang fasih berbahasa Mandarin, yang menjadi bahasa utama Cina. Yang kerap kami gunakan dalam percakapan kami adalah "dialek", entah Hakka, Hokkian, Tio Ciu, dll., tetapi bukan bahasa utama yaitu Mandarin.

Saudara-saudara kami di Malaysia mungkin sedikit lebih beruntung karena tidak perlu mengganti nama Cina mereka dan dengan fasih mereka berbahasa Mandarin, walaupun dalam hal kesempatan politik dan memiliki jabatan dalam pemerintahan, mereka pun bernasib sama seperti kami di Indonesia.

Anggapan "kurang nasionalis, kurang mencintai Indonesia", dll. pun sering disematkan pada kami. Pertanyaannya: Bagaimana kami bisa bersikap nasonalis jika nasionalisme kami tidak diakui dan bagaimana kami bisa mencintai Indonesia jika Indonesia belum tentu mencintai kami?

Salahkah jika sampai banyak warga keturunan yang pindah negara dan berpendapat:
"Lebih baik saya dianggap orang asing di tempat saya memang orang asing, daripada saya dianggap orang asing di tempat saya dilahirkan dan tumbuh besar."

Kenyataan bahwa kami mencintai Indonesia pun tidak akan pernah cukup selama jiwa dan raga kami masih berwujud Cina. Siapa yang harus disalahkan? Tuhan yang menciptakan saya sebagai etnis Cina? Kakek buyut saya yang pindah ke Indonesia? Ataukah orang-orang intoleran dan rasis yang merasa dirinya lebih hebat dari Tuhan sehingga berani melangkahi kedaulatan Tuhan?

emylin riama mengatakan...

Hanya liat pak jokowi aja jd memberi rasa utk cinta indonesia

Erfan Efendi mengatakan...

Yang terhormat saudaraku semua ... janganlah berkecil hati tinggikan kepala jauhkan pandangan, Indonesia bukan hanya jakarta saja kita semua saudara,kami yang jauh dari jakarta juga merasakan kepedihan dan kegundahan namun kami di sini yakin bangsa yg besar ini tidak suka pada kekerasan tidak suka pada paksaan tidak suka pada makian,tekanan dan cacian juga tidak suka pada mata yang melotot dan hampir copot setiap kali mengungkapkan kebencian.tetaplah tegar tetaplah semangat bangsa kita hanya membutuhkan sedikit waktu untuk melewati kesalahan ini berakhir dan berlalu.percayalah ada banyak orang di indonesia yg cinta damai tanpa memandang ras suku adat budaya dan agama.

Myra Langoy mengatakan...

Sama dengan impian saya..semoga klak bangsa Ini belajar untuk membri kesempatan siapapun untuk punya impian spt Ahok dan Jokowi krn melihat motivasi,dedikasi,dan integritasnya...

Johannes Togatorop mengatakan...

Salut Lae Birgaldo, Terimakasih utk tulisan dan perjuangannya, tetaplah berjuang. Karena perjuangan itu tiada henti, perjuangan itu sendiri sdh merupakan kemulian apapun hasilnya. Salam hormat kami yang cinta damai

Posting Komentar