Denny Siregar Ungkap Dibalik Senyuman Ramah Nan Sumringah Pak Djarot, Share!


DJAROT YANG SELALU SUMRINGAH..

Dulu saya hampir tidak mengenal pak Djarot, saat beliau menjadi Wakil Gubernur Ahok...

Pak Djarot pada waktu itu sangat pendiam dan tidak terlihat. Ia berada dibalik besarnya bayang-bayang Ahok yang selalu menjadi sorotan media. Pak Djarot lebih fokus bekerja dan berusaha tidak banyak tampil ke publik.

Sedikit sekali saya mengenal karakter pak Djarot. Hanya yang saya ingat adalah pernyataan Ahok, tentang kenapa ia akhirnya lebih memilih pak Djarot kepada bu Mega, dibandingkan Boy Sadikin. Ahok lebih suka pak Djarot karena beliau adalah mantan walikota Blitar. "Sama-sama pernah memimpin daerah, jadi enak ngomongnya.." kata Ahok.

Ada hal lagi yang membuat Ahok jatuh cinta kepada pak Djarot.

Tahun 2006, mereka satu rombongan ke China. Disana, Ahok melihat hanya dia dan pak Djarot yang tidak menghamburkan uang sampai ribuan dollar untuk belanja seperti rekan-rekan lainnya. "Ini pasti orang jujur.." pikir Ahok.

Dan memang pak Djarot tidak ada sedikitpun track record yang jelek waktu memimpin Blitar selama dua periode.

Selama memimpin Jakarta mereka tidak pernah berselisih paham dan saling memahami porsi pekerjaan masing-masing. Selisih mereka hanya saat sebelum penentuan Cagub saja, itu juga karena settingan supaya rame di media.

Pada waktu kampanye ini, pak Djarot terlihat sudah menemukan ritmenya. Ia tidak lagi malu-malu tupai ketika berhadapan dengan media dan publik. Pak Djarot bersinar dalam tekanan-tekanan selama masa kampanye. Senyumnya semakin lebar, suaranya semakin lantang, tawanya semakin keras dan gerak tubuhnya terlihat makin mantap.

Dengan gagah berani pak Djarot menyambangi masjid-masjid yang bukan pemilih mereka berdua. Dan cacian, makian juga usiran dihadapi dengan senyum penuh kemenangan. Menang karena berhasil bertahan untuk tidak membalas dengan emosi serupa.

Pak Djarot juga aktif dalam menjawab pertanyaan saat debat. Dan ketika debat, kita melihat bahwa pak Djarot bukan lagi hanya mengisi ruang, tetapi ia tampil seimbang dengan Ahok. Kata-katanya, argumennya sampai sindiran pertanyaannya sangat mengena yang membuat lawan debatnya akhirnya harus beretorika lagi dengan mbulet karena tidak mampu menjawab langsung telaknya pertanyaan pak Djarot.

Latar belakang pak Djarot sebagai anak pesantren sangat membantu ketika harus bertemu dengan pengurus besar NU. Sesama alumni dan saling mengenal ,membuat pertemuan menjadi penuh guyonan dan hilang sekat. Khas NU ketika menerima tamu yang juga saudara seperguruan. Disini Ahok benar-benar sangat terbantu..

Meskipun kelahiran Magelang, pak Djarot sangat Jawa Timur. Mungkin karena ia menghabiskan remajanya disana saat kuliah. Dan coba tanya warga Blitar, seperti apa pak Djarot saat memimpin disana. Sangat sederhana dan merakyat. Dan ini terbawa terus sampai ia bertemu Ahok yang akhirnya jatuh cinta karena kesederhanaannya...

Pak Djarot Syaiful Hidayat menjadi penerang Ahok saat kampanye pilkada ini, dan bukan menjadi beban. Semoga ketika memimpin Jakarta nanti, mereka berdua bisa saling bekerjasama dan mengimbangi juga menghormati tugas dan tanggung jawab masing-masing..

Pak Djarot pasti lebih suka ngopi, gak kaya Ahok. Mosok wong Jatim gak doyan ngombe kopi rek rek.. Kebacut tenan..

Seruput sek, cak....

Sumber: FB Denny Siregar

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.

0 Response to "Denny Siregar Ungkap Dibalik Senyuman Ramah Nan Sumringah Pak Djarot, Share!"

Posting Komentar