Mengejutkan! Pengakuan Blak-Blakan Pejabat Inspektorat Jendral Kemendikbud Tentang Anies Baswedan Saat Jadi Mendikbud!


KESAKSIAN TENTANG ANIES BASWEDAN

Ibu Nina K. Sani ini adalah pejabat di inspektorat jendral Kemendikbud. Beliau tau benar seperti apa gaya Anies Baswedan sebagai pemimpin. Nih baca tulisannya, dan sebarkan agar kita tidak salah memilih.

"Awalnya saya tak mau menulis tentang hal ini. Bukan apa2, aku takut tulisanku dikaitkan dengan aura Pilkada Jakarta yang keras dan tajam.

Tapi setelah melihat kemenangan Paslon 3, aku berpikir ulang.

Bukan aku tak suka apalagi benci kepada Paslon 3, aku hanya khawatir banyak orang 'salah membaca' dan 'terpengaruh' oleh penampilan dan gaya bicaranya yg santun dan cerdas n wajahnya yg disukai banyak ibu2 muda n tua.

Saat awal pak Anies jadi Mendikbud, dia selalu ke Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan & Kebudayaan utk rapat/ rapim. Kami sih senang aja, krn bisa foto-foto dengan Mendikbud baru yg ganteng. Apalagi aku termasuk yg mengusulkan ke temanku yg kenal Ring 1 agar Anies jd Mendikbud, jangan jadi Mensesneg atau Menseskab.

Tapi setelah sering dia datang untuk rapat, banyak pejabat eselon 2 yg tak suka karena pak Anies dianggap menteri muda yg tak tau apa-apa. Layaknya anak muda yg baru mulai kerja, pak Anies selalu bertanya dan berlindung di ketiak Irjen kami waktu itu, pak Haryono Umar (mantan Wk Ketua KPK).

Entah kenapa pak Haryono Umar tiba2 berhenti sbg Irijen, pdhl blm masanya. Beliau digantikan oleh (issuenya) teman pak Anies dari Bapenas. Walaupun ketika tes lelang jabatan ybs mendapat rangking 4, tapi kenyataannya ybs akhirnya terpilih menjadi irjen kami sampai sekarang (issuenya jg banyak masalah).

Selain itu, sejak pak Anies menjadi Mendikbud, dia banyak mengangkat pejabat eselon 1,2,3,4 yang notabene adalah teman-temannya. Hal ini membuat orang dalam Kemendikbud yang sudah puluhan tahun bekerja menjadi tidak bisa naik jabatan karena semua diisi oleh kroninya pak Anies.

Bahkan kantin yg biasanya murah utk kantong PNS, setelah direnovasi lalu diambil alih oleh adiknya pak Anies dan sejak itu dijadikan foodcourt yg harganya 2x lipat dari harga sblm direnov, sehingga sebagian besar pegawai memilih makan di kantin Itjen (samping FX) yg lebih murah.

Pada saat audit di salah satu satker, ada buku tebal berbahasa Inggris tentang budaya Indonesia untuk kalangan asing yg idenya berawal dari permintaan pak SBY di era Mendikbud pak Nuh. Cetakan pertama 2014 dengan kata pengantar dari pak SBY dan Pak Nuh. Waktu itu penerbitannya sempat terhambat di percetakan krn menunggu tanda tangan pak SBY. Tau2 thn 2015 masuk pak Anies sbg Mendikbud baru buku tsb dibuat cetakan ke-2 atas perintah pak Anies dgn sedikit penambahan isi. Anehnya, kata pengantar dari pak SBY dan Pak Nuh dihilangkan diganti dengan kata pengantar pak Anies. Seharusnya kalau memang mau dicetak ulang dan pak Anies mau terkenal, tidak boleh menghilangkan bukti sejarah. Kata pengantar dari pak SBY dan pak Nuh harus tetap dipertahankan, n bisa ditambah dengan kata pengantar dari pak Anies. Kalau melihat cetakan ke-2 yg isi dalamnya sama namun menghilangkan kata pengantar yg asli, ini namanya pemalsuan sejarah.

Belum lagi, sewaktu menjabat Mendikbud, pak Anies membawa 60 staf ahli dari luar, di mana setiap proyek harus melalui mereka dulu (spt mafia), baru ke pak Anies. Lucunya, ketika pak Anies diberhentikan, para staf ahli ini ikut berhenti tapi dengan membawa laptop dan mobil milik negara yang dipinjamkan ke mrk dan tidak dikembalikan, sampai para security ikut heboh mencari mereka; wkt itu hanya beberapa yg bisa diambil kembali. Waktu itu sempat akan diproses kasus tsb, tapi seiring waktu kasus ini menguap.

Itulah sepenggal cerita yg sdh menjadi rahasia umum karyawan Kemendikbud dan bukan hoax tentang pak Anies.

Sayangnya, banyak orang berharap dengan keluarnya pak Anies dari Kemendikbud, seharusnya para kroconya ikut keluar juga. Tapi ternyata tidak. Sampai sekarang mereka masih menjabat, bahkan adik pak Anies masih mengelola kantin Setjen.

Cerita lainnya Pak Anies itu memperkaya diri sendiri dgn perbaikan rumahnya yg skrg. Dia merubah anggaran seenaknya krn hrs bayar pengikut dg jmlh banyak (60 staf ahli) dan minta laptop utk setiap org dll. Sampe skrg laptop tsb ga balik. Mau merubah sholat jumatan bukan di mesjid Kemendikbud tp di aula, ditolak pengurus mesjid.

Aduh banyak lagi. Ada temuan Menteri Sri Mulyani mengenai data penerima sertifikasi yg ngawur. KIP salah sasaran. Menyebar angket lgs kpd guru di seluruh Indonesia tanpa melalui birokrasi utk meminta dukungan kpd para guru. Surat tsb membuat resah para guru n langsung melapor ke Direktorat di pusat. Ternyata para pejabat di direktorat ybs tidak tahu menahu ttg sebaran angket tsb. Ternyata angket tsb dikirim secara pribadi oleh Pak Anies selaku Mendikbud utk cari dukungan."

Sumber: gerilyapolitik.info

Sesudah berita ini viral di media sosial, penulis berita ini minta maaf dan memberikan penjelasan berikut ini:

Penulis Berita Viral yang Sudutkan Anies Baswedan Minta Maaf

Penulis berita yang viral di media sosial karena menyudutkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta mantan mndikbud Anies Baswedan menyatakan penyesalannya. Penulis, Nina Kentjana Ningrat Sani yang menduduki jabatan fungsional sebagai auditor utama di Inspektorat Jenderal Kemendikbud menulis klarifikasi secara tertulis.

Menurut Nina, pemberitaan tersebut merupakan rangkaian chatting atau percakapan pribadinya di grup whatsapp (WA) . Namun perbincangan itu disebarkan ke pihak lain melalui sosial media tanpa seijin Nina.

"Saya ketahui pengirim mengirimkan ke WA grup yang awalnya tidak tercantumkan identitas nama dan biodata saya," kata Nina dalam pernyataan tertulisnya.

Nina melanjutkan, setelah informasi disebar di media sosial ternyata identitasnya ikut tersebar seperti di Infomania, Kompas NKRI, Jakarta Asoy dan Facebook. "Ini menyerang karir saya sebagai pegawai negeri sipil atau aparat sipil negara," ujar Nina.

Berdasarkan hal itu, Nina menyampaikan klarifikasi sebagai berikut:
1. Tidak benar bahwa Anies Baswedan mengangkat teman-temannya sebagai pejabat. Semua pejabat yang diangkat di lingkungan Kemendikbud melalui proses seleksi yang ketat dan terbuka. Panitia seleksi pun berisi orang-orang baik dan beritegritas yang dipimpin Erry Riyana Hardjapamekas, mantan pimpinan KPK. Bahkan tidak satu pun pejabat eselon satu yang merupakan kawan lama Anies. Semua adalah peserta seleksi yang mayoritas pegawai karier di lingkungan Kemendikbud.

2. Nina tidak pernah mengenal pejabat yang ada di Ring 1 Presiden yang bisa mengusulkan apakah Anies menjadi Mendikbud atau Mensesneg. Nina hanya auditor biasa.

3. Mengenai kinerja Anies, sebaiknya diperiksa ke lembaga-lembaga seperti BPK, KemenPAN-RB dan Ombudsman. Mereka menggunakan ukuran objektif untuk menilai kinerja kementerian.

4. Tidak benar informasi bahwa Anies membawa staf ahli sebanyal 60 orang. Nina tidak pernah mengutarakan hal ini dan tidak masuk akal. Ruangannya saja tidak akan ada. Apalagi itu jelas melanggar karena jumlahnya janggal dan menyalahi Peraturan Presiden  Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara di Bab VII Pasal 68.

5. Dengan ketidakuratan mengenai jumlah staf ahli ini, maka informasi yang terkait dengannya menjadi tidak benar juga. Termasuk mengenai barang-barang inventaris negara seperti laptop dan kendaraan. Karena memang kenyataannya Nina tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.

6. Mengenai kantin Kemendikbud, tidak pernah ada hubungan dengan adik Anies Baswedan.

7. Mengenai penerbitan buku, itu semua sudah sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di lingkungan Kemendikbud. Buku tersebut bukan hasil karya tulis pribadi menteri atau pribadi lain. Buku itu adalah hasil karya instansi Kemendikbud yang bisa direvisi dan diterbitkan kapan saja oleh instansi Kemendikbud.

8. Mengenai Tunjangan Profesi Guru (yang bukan anggaran Kemendikbud tetapi anggaran transfer daerah di Kemenkeu) justru inisiatif untuk merevisi anggaran dan tidak mencairkan anggaran yang kelebihan itu datangnya dari Kemendikbud yang saat itu dipimpin Anies. Surat Kemendikbud tersebut telah dikirim oleh Sekjen Kemendikbud ke Kemenkeu, lalu Kemenkeu menindaklanjutinya sesuai surat Kemendikbud.

Dalam pernyataan tertulis tersebut, Nina menekankan rasa penyesalan dan tidak akan mengulangi hal itu. "Saya minta maaf kepada Kemendikbud, Bapak Anies dan beberapa pihak yang terimbas dari berita itu," ujar Nina.

Sumber: Republika.co.id

1 Response to "Mengejutkan! Pengakuan Blak-Blakan Pejabat Inspektorat Jendral Kemendikbud Tentang Anies Baswedan Saat Jadi Mendikbud!"

Thor Loki mengatakan...

wah tinggal tunggu KPK iki..enak banget ini santapan KPK

Posting Komentar