Ini Serangan Sylviana Murni ke Ahok yang Gagal Total Pada Debat Kedua! Share!


CeriaNews.com - Kita semua telah bersama-sama saksikan debat kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 yang disiarkan oleh 12 stasiun televisi malam hari ini. Dalam debat kali ini, Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah lebih sabar dan kata-katanya semakin halus. Meski telah diserang kanan dan kiri, Pak Ahok telah dengan proporsional membenarkan yang salah dan menegur yang menyesatkan dengan halus. Yang ingin saya bahas di tulisan ini adalah bagaimana sindiran dari calon wakil gubernur nomor urut satu Sylviana Murni yang gagal total.

Sedang menjawab pertanyaan dari nomor urut 3 tentang sistem pengelolaan birokrasi di bawah kepemimpinan Ahok-Djarot, Ibu Sylvi ini malah curi-curi untuk menyerang nomor urut 2, namun sayangnya ia sepertinya tidak membawa kaca.

Serangan yang Gagal

Sylviana Murni menjawab dengan mengutip UU nomor 5/2014 tentang aparatur sipil negara (ASN) yang menegaskan bahwa birokrasi itu harus ramping struktur namun kaya fungsi. Sylviana sebenarnya mencoba menyerang gubernur petahana Ahok yang memilih bawahannya, seperti untuk jabatan kepala dinas, dengan menggunakan diskresi, serangan yang sebenarnya cukup cantik di mata saya. Sayangnya, embel-embelnya menurut saya sangat gagal.

“Jangan dengan sudah rapinya, kita punya yang namanya Talented Tools Management, kita punya semuanya, tetapi kemudian ada diskresi kembali (oleh) gubernur (untuk memilih bawahannya),” ujar Sylviana.

“Saya yakin Pak Anies mengerti betul bahwa sistem pendidikan ini dipersiapkan. Apabila seseorang menjadi dokter, dipersiapkan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya atau pengetahuannya tentang dokter, bukan kemudian jadi camat. Bukan kemudian akhirnya seorang yang memang dari IPDN jelas dia tentang kepamongan kemudian dia mengurus masalah tata air. Disini yang perlu kita benahi. Disini perlunya penyempurnaan,” lanjut Sylviana.

Saya mengerti maksud Anda yang ingin menyerang Ahok Bu, namun sayang ibu tidak membawa kaca kah? Ibu lupa bahwa orang yang duduk di sebelah Ibu malam ini adalah contoh yang paling baik yang justru membantah argumenmu Bu. Ibu lupa atau bagaimana ya Bu? Hahaha.

Padahal kita semua tahu bahwa Agus Harimurti Yudhoyono berpendidikan militer lulusan tahun 2000, apakah Ibu sendiri yang tidak tahu? Bagaimana dengan seseorang yang telah berkarier selama 16 tahun mengabdi di TNI lalu sekarang tiba-tiba mau menjadi gubernur yang notabene adalah pemimpin rakyat yang tertinggi di level provinsi Bu?

Menurut Anda kan seseorang dalam membangun kariernya itu selalu melalui pendidikan dan tempaan secara bertahap, baru kemudian melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Lah sedangkan pasangan Anda itu belum punya pengalaman sama sekali loh Bu untuk menjadi pemimpin. Bahkan jadi bupati pun belum pernah. Bukankah berarti dia belum punya pendidikan dan belum ditempa untuk melanjutkan ke tingkat gubernur? Apalagi ini Gubernur DKI Jakarta, Ibu Kota yang masalahnya begitu kompleks dan juga ada berbagai macam mafia serta premannya. Maaf Bu Sylvi, menurut saya serangan Anda yang ini sungguh gagal total!

Kenapa Ahok Melakukan Diskresi

Ibu Sylviana Murni, katanya Anda sudah 38 tahun kan menjadi seorang birokrat? Sudah berapa banyak gubernur silih berganti menjadi atasan Anda Bu. Lalu masa Anda masih tidak bisa membedakan yang mana dinas yang hasil kerjanya kelihatan, masa Anda masih tidak paham mengapa Pak Ahok memilih untuk melakukan diskresi dalam memilih kepala dinas dari luar dinas yang terkait? Nih Bu saya beritahu Anda ya.

Saya tidak tahu apakah yang Anda maksud adalah pengangkatan jabatan kepala dinas atau bukan, namun saya akan mengambil pengangkatan Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta menjadi contoh untuk membenarkan tindakan yang dilakukan Pak Ahok. Saya juga yakin dalam melakukan diskresi saat memilih kepala dinas atau bawahan yang lain juga atas dasar yang sama.

Sedikit cerita sejarah untuk pembaca, pada tahun 2015 Ahok sudah mengganti tiga kali Kepala Dinas Tata Air dengan alasan kinerja. Ahok menganggap bahwa kepala dinas sebelumnya tak maksimal dalam menangani air dan persiapan banjir, padahal yang sebelum-sebelumnya dipilih . Pada akhirnya, pada Desember 2015 yang lalu Ahok melantik Teguh Hendarwan menjadi Kepala Dinas Tata Air yang sampai sekarang ia pertahankan karena kinerjanya yang memuaskan.

Saya ingin mengutip perkataan Pak Ahok yang bersumber disini (http://news.metrotvnews.com/read/2016/01/06/208656/ahok-kepala-dinas-tata-air-sekarang-lebih-kenceng).

“Sekarang lihat banjir, camat jadi kepala dinas tata air lebih top kan. Lebih kenceng, genangan lebih cepat turun,” kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (6/1/2016).

“Malam-malam masih kerja. ‘Kamu plototin saja WhatsApp grup, fotonya (banjir) mana, ke mana lho (Kepala Dinas Tata Air) masih ada genangan segala macam, nih’,” ungkap Ahok

Latar belakang pendidikan seorang Teguh Hendarwan mungkin tidak berkaitan dengan SKPD yang dia pimpin (tata air). Namun jika Bapak Teguh punya kemampuan manajerial untuk memimpin SKPD itu, apa masalahnya? Saya tidak melihat masalah apapun. Bukankah yang terpenting adalah warga DKI mendapatkan manfaat dari kinerjanya? Masa logika sederhana seperti ini Anda tidak paham Bu?

Anda dan Sumarsono Sama Saja

Saya masih ingat bagaimana Plt Gubernur DKI saat ini, Sumarsono, yang melakukan perombakan jabatan di lingkungan DKI Jakarta pada 3 Januari 2017. Merasa seperti gubernur yang terpilih, entah apa maksud Sumarsono melakukan pergantian atas alasan latar belakang pendidikannya tidak sesuai. Kita ambil saja satu contoh dimana Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Kehumasan DKI, Dian Ekowati, hampir saja mau diganti oleh Sumarsono karena alasan berlatar belakang dokter gigi. Benar-benar geblek!

Saya lagi-lagi ingin mengutip perkataan Pak Ahok yang bersumber disini (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/06/14391951/kadis.komunikasi.dan.informasi.dki.sempat.mau.dicopot.sumarsono) dan disini (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/12/28/22413711/ahok.minta.plt.gubernur.tak.ganti.pejabat.di.lingkungan.pemprov.dki).

“Makanya saya ngomong sama Pak Pras sebagai Ketua DPRD, jangan (dicopot). Saya bilang, tolong dimengerti subtansi UU ASN (Undang-undang Aparatur Sipil Negara) itu sudah enggak bicara rumpun, tapi bicara kinerja,” kata Ahok Kamis kemarin.

“Jangan bilang kalau bukan insinyur mesti balikin ke rumpun teknik, enggak ada. Buktinya sekarang si Teguh kerjanya lebih bagus, iya kan, logikanya begitu kan,” ujar dia.


Anda dan Sumarsono ini benar-benar berpikiran jadul. Ini sudah abad 21 dan dimana-mana pekerja digaji karena ia dapat bekerja dan memenuhi kewajibannya. Memang benar pendidikan akan menjadi pintu masuk dan penilaian pertama bagi para boss untuk memilih pegawainya, tapi itu cuman di awal saja. Selanjutnya, kenaikan pangkat ataupun bonus akan ditentukan oleh kinerja.

Saya melihatnya jangan-jangan ini adalah bentuk kekesalan Anda ketika beberapa teman Anda di lingkungan DKI yang dicopot oleh Pak Ahok karena kinerjanya tidak memuaskan? Atau mungkin metode kenaikan jabatan berdasarkan durasi pengabdian ini lah diterapkan oleh gubernur-gubernur yang dulu-dulu ya Bu? Wah kalau iya saya jadi tahu kenapa Jakarta tidak pernah berubah banyak dulunya! Hahaha.

Bagi saya seorang PNS itu sangat egois jika menganggap dirinya layak untuk menjadi kepala dinas karena latar belakang pendidikan ataupun atas dasar panjang pendeknya durasi pengabdian di dinas terkait. Mengharapkan kenaikan jabatan tanpa membuktikan kemampuan diri sendiri adalah pemikiran yang mungkin telah menghancurkan mental birokrat-birokrat di DKI Jakarta.

Apakah manfaat yang didapat oleh warga DKI harus dikorbankan karena keegoisan kalian? Apakah kepuasan warga DKI harus menjadi nomor dua ketika berhadapan dengan kepentingan kenaikan jabatan kalian? Kalau jawabannya iya, berarti benar apa yang dikatakan Pak Ahok, kalian tidak punya hati untuk melayani, kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri! Untung saja gubernurnya Ahok yang tegas dan berani menolak suap, kalau tidak perubahan di Jakarta apakah bisa seperti sekarang ini?

Komentar Penutup

Bagi saya mengatur SKPD bukanlah seperti memberikan pendidikan formal di universitas. Saya juga kerja sama orang, dan saya setuju bahwa kemampuan manajerial dan kemampuan memberikan kerja nyata haruslah menjadi kriteria pertama dan kedua dalam memilih siapa yang layak untuk mendapatkan promosi jabatan, siapa yang harus menjadi kepala dinas.

Kalau menjabat jabatan yang lebih rendah sedikit ya saya maklumi saja, asalkan orangnya jujur, karena kita juga harus menghargai pengabdian mereka yang telah lama. Tapi untuk jabatan kepala dinas yang notabene harus mengatur kerja bawahan dan mengikuti ritme kerja gubernur, no way! Ini zaman kerja, kerja, kerja! Kalau ga bisa kerja, ya jadi bawahan saja lah! Saya harapkan tahu diri ya!

Kalau berdasarkan pemikiran Anda seperti itu, kalau begitu nanti jika Anda dan Pak Agus terpilih, bisa-bisa semua kepala dinas merupakan orang-orang yang latar belakangnya dari dinas yang sama ya Bu? Jangan-jangan Anda tidak akan mementingkan kinerja mereka? Jangan-jangan nanti akibatnya kinerja Pemprov DKI kembali seperti dulu lagi dong? *tepok jidat*

Kepada rakyat Jakarta, berhati-hatilah dalam menentukan pilihan Anda. Bukalah mata Anda melihat yang mana yang pemimpin dan yang mana adalah pemimpi !


Dari sebatang pohon yang ingin berdiri kokoh dan tegar di tengah badai dan topan………

Power (Baca juga tulisan-tulisan saya yang lain disini: https://seword.com/author/aryanto/)

Sumber: POWER ARYANTO FAMILI @ Seword.com

0 Response to "Ini Serangan Sylviana Murni ke Ahok yang Gagal Total Pada Debat Kedua! Share!"

Posting Komentar