Ibu Ini Ungkap Sesatnya Konsep Annisa Pohan 'Menggeser Tanpa Menggusur'! Share!


CeriaNews.com - Artikel berikut ditulis oleh Ibu YAYA, sebagaimana diterbitkan di situs Seword.com:

Masih ingat dengan ide paslon Agus Sylvi tentang ‘menggeser’ rumah warga bantaran sungai? Ide yang membingungkan dan multi tafsir, hmmm… Terus terang banyak orang yang gagal paham, termasuk saya. Apa bedanya toh? Gusur sama geser (jangan bilang beda huruf ‘e’ ya, hihihi)… Bagaimana cara merealisasikan ide ‘menggeser’ tersebut? Berikut kutipan pernyataan Agus pada acara debat pilkada DKI Jakarta putaran kedua tanggal 27 Januari 2017 :

“Kami berbicara dengan banyak aktivis dan berbagai komunitas di Jakarta, mereka mau untuk (rumahnya) bergeser sedikit, bukan gusur. Bergeser sedikit untuk didirikan rumah hunian yang laik.” Agus mengaku memiliki ide ‘on side upgrading‘ untuk membangun vertical housing di lokasi yang sama dengan permukiman warga.”

Tapi ketika diminta penjelasan lebih lanjut, Agus malah minta waktu 5 tahun untuk menjelaskan, berikut kutipan-nya:

“Tentu dalam 2 menit tidak bisa banyak yang dijelaskan. Saya menjelaskan secara prinsip ya, tidak mungkin dalam 2 menit menjelaskan secara teknis. Kita punya 5 tahun untuk bisa menjelaskan itu. Kalau diberi kesempatan memimpin, 5 tahun itulah waktu untuk menjelaskan kepada publik” ujar Agus di kawasan Jakarta Timur, Sabtu 28 Januari 2017.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/28/18531921/agus.sebut.waktu.2.menit.tak.cukup.untuk.jelaskan.membangun.tanpa.menggusur

Maaakkk, masak menjelaskan ide ‘menggeser’ saja harus 5 tahun? Kuliah S1 saja rata-rata cuma 4 tahun mas! Disini sangat jelas kalau Agus mempunyai kekurangan di bidang komunikasi, atau memang tidak paham bagaimana caranya? wkwkwkwk… Tapi jangan khawatir para pemirsa …. Eng ing eng… Ternyata sang istri tercinta sudah siap membantu menjelaskan! Di akun instagramnya (@annisayudhoyono), Annisa Pohan membuat status terkait ‘menggeser tanpa menggusur’, lengkap dengan gambar beserta keterangan-nya. Berikut kutipan pernyataannya:

“Untuk teman-teman yang belum ada gambaran tentang “membangun tanpa menggusur”, solusi agar tidak perlu memindahkan mereka keluar dari lingkungannya, tdk perlu sampai mereka harus kehilangan segala yg ada di hidupnya, pekerjaannya, & ditambah beban membayar sewa rusun.”



Jadi inti dari gambar tersebut adalah:

1. Sebagian warga yang rumahnya di sekitar bantaran sungai akan dipindahkan sementara ke lahan atau hunian warga lain di sekitar lokasi. Lalu pada lokasi tersebut, dibangunlah rumah rakyat (vertical housing alias rusun).

2. Ketika pembangunan rusun sudah selesai, warga lama boleh kembali menempati unit rusun baru tersebut. Sisa unit bisa dipakai untuk warga lain yang terkena dampak.

Semudah itu ternyata konsepnya, tapi mustahil untuk dilakukan! Ya ampun, saya membacanya saja sudah ngeri. Kenapa tidak mungkin?

1. Melanggar hukum

Berdasarkan PP No 38/2011 tentang Sungai, bahwa jarak 10-20 meter dari bibir sungai atau sempadan adalah dilarang untuk dibangun. Sungai, termasuk sempadan, adalah milik negara. Ini malah merencanakan membangun rusun, eh vertical housing pula di bantaran sungai, hadeehh…

2. Teknisnya tidak mungkin dilaksanakan.

Kenapa? Perhatikan gambar tahap pertama, sebagian warga akan ‘digeser’ sementara ke lahan atau hunian warga lain di sekitar lokasi. Jadi maksudnya numpang rumah tetangga gituh? Emangnya rumah nenek lu? Hahaha… Kalau satu orang menginap di rumah tetangga selama satu atau dua hari masih masuk akal. Ini serumah mau numpang di rumah orang lain sampai vertical housing nya jadi? Enak aja!

Siapa yang menanggung biaya ‘numpang’ di rumah orang itu? Emangnya gratis numpang makan minum di rumah orang lain? Apakah rumahnya cukup? Apakah yang punya rumah mengizinkan? Kalau yang punya rumah tidak mengizinkan bagaimana? Halaaahh… Ini mah namanya program menggeser kenyataan! Wahahaha…

3. Lokasi untuk ‘menggeser’ warga sudah tidak tersedia.

Konsep ‘menggeser’ ini diduga mirip dengan konsep ‘Kampung Deret’ yang dulu dicanangkan Jokowi sewaktu menjadi Gubernur Jakarta. Ahok menjelaskan bahwa sudah ada kampung deret yang dibangun pada masa pemerintahan dia dan Jokowi. Namun, kini Pemprov DKI tidak bisa lagi membangun kampung deret dikarenakan tidak ada lagi tanah negara yang bisa digunakan untuk mendirikan kampung deret. “Kenapa kami berhenti? Karena enggak ketemu tanah lagi. Kalau kamu dudukin tanah negara yang lahan hijau, enggak bisa dong bikin Kampung Deret,” ujar Ahok.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/28/10440681/menggeser.bukan.menggusur.janji.agus.yang.mirip.dengan.janji.jokowi

Jadi pertanyaannya, apakah lokasi untuk tempat ‘menggeser’ warga masih tersedia? Kalau bertepatan dengan jalur hijau atau jalan umum misalnya, apakah jalan tersebut harus ditutup? Makin bingung saya…

4. Bagaimana dengan proyek normalisasi sungai?

Maksud saya, bagaimana caranya membuat sungai yang lebarnya 5 meter mau diperlebar menjadi 10 meter, misalnya. Kalau dilihat pada gambar yang diposting Annisa, sepertinya itu sama sekali tidak dilakukan. Jadi intinya ‘menggeser’ ini apa kalau bukan untuk normalisasi sungai? Haiyaaa…

Jadi kesimpulannya, menurut saya gambar yang diposting oleh mbak Annisa Pohan yang cantik itu, sayangnya hanya bentuk pembodohan publik yang menyesatkan saja. Usaha untuk menarik simpati dan meraup suara.

Saran saya untuk para pemirsa… Kita ‘iya’ kan sajalah ide ajaib ‘menggeser tanpa menggusur’ ini, tidak usah dibully lagi, pusing saya jadinya, hehehe.. Yang penting nanti tanggal 15 Februari coblos nomor……..?

Do not be fooled by foolish people!

Sumber: Seword.com

1 Response to "Ibu Ini Ungkap Sesatnya Konsep Annisa Pohan 'Menggeser Tanpa Menggusur'! Share!"

Maya Kuskus mengatakan...

Suruh aja numpang dirumah mertuanya di cikeas. Kan luas tuh lahan. Nanti pasti dpt pujian "wah menantuku memang cerdas"

Posting Komentar