Minta Volume Adzan Dikecilin, Ribut! Vihara Dirusak Dibakar! Ini Kronologi Dari Polisi!

Minta Volume Adzan Dikecilin, Ribut! Vihara Dirusak Dibakar! Ini Kronologi Dari Polisi!

CeritaNews.com - Sejumlah vihara dan klenteng di Kota Tanjungbalai dirusak dan dibakar massa, Jumat (29/7) malam. Kerusuhan bernuansa SARA ini diduga turut dipengaruhi postingan di media sosial.

Berikut kronologi kerusuhan yang disampaikan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting.

"Kejadian ini berawal dari adanya permintaan seorang warga Tionghoa, M (41), warga Jalan Karya Tanjungbalai Balai yang menegur nazir Masjid Al Makhsum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid, di mana menurut nazir masjid bahwa hal tersebut telah diungkapkan beberapa kali," sebut Rina.

Sekitar pukul 20.00 WIB, setelah selesai salat Isya, jemaah dan nazir masjid menjumpai M ke rumahnya. Kepala lingkungan mengamankan M dan suaminya ke kantor lurah. Karena
suasana pada saat itu sudah agak memanas, maka M dan suaminya diamankan ke Polsek Tanjungbalai Selatan.

Setibanya di Polsek lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, camat, kepling dan tokoh masyarakat setempat. Pada saat bersamaan massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin kelompok elemen mahasiswa dan melakukan orasi. Selanjutnya massa yang diimbau sempat membubarkan diri.

Pukul 22.30 WIB massa kembali berkumpul karena diduga telah mendapat informasi melalui media sosial ( Facebook) yang diposting salah seorang warga. Selanjutnya massa kembali mendatangi rumah M di Jalan Karya. Mereka hendak membakar namun dilarang warga sekitar.

Karena massa sudah semakin banyak dan semakin emosi, selanjutnya massa bergerak menuju Vihara Juanda yg berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Upaya pembakaran
diadang personel Polres Tanjungbalai, namun terjadi pelemparan menggunakan batu sehingga vihara mengalami kerusakan.

Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran dan pengerusakan di sejumlah vihara dan klenteng di Tanjungbalai. Massa melakukan pembakaran terhadap 1 unit Vihara dan 3 unit klenteng 3 unit mobil, 3 unit sepeda motor dan 1 unit betor di Pantai Amor; merusak barang-barang 1 unit klenteng di Jalan Sudirman, merusak barang-barang 1 unit klenteng dan 1 unit praktik pengobatan Tionghoa serta 1 unit sepeda motor di Jalan Hamdoko; merusak barang-barang 1 unit klenteng di Jalan KS Tubun dan 1 unit bangunan milik Yayasan Putra Esa di Jl Nuri; membakar barang-barang dalam 1 unit vihara di Jalan Imam Bonjol, merusak isi bangunan Yayasan Sosial dan merusak 3 unit mobil di Jalan WR Supratman, merusak pagar vihara di Jalan Ahmad Yani, membakar barang-barang yang ada dalam 1 unit klenteng di Jalan Ade Irma.

"Jenis barang-barang yang dibakar maupun yg dirusak massa di dalam vihara dan Kelenteng itu berupa peralatan sembahyang seperti dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, meja, kursi, lampu, lampion, patung Budha, dan gong," sebut Rina.

Polisi kemudian mengambil sejumlah langkah untuk mengendalikan situasi. Mereka berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait termasuk dengan Polres terdekat. Mereka juga berkoordinasi dengan Muspida, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

"Kita juga menyampaikan imbauan dan menghalau massa untuk membubarkan diri. Melakukan penjagaan dan pengamanan di lokasi vihara dan kelenteng," sambung Rina.

Berikut daftar rumah ibadah dan panti sosial yang menjadi korban amuk warga:

1. Vihara Tri Ratna di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
2. Vihara Avalokitesvara di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
3. Kelenteng Dewi Samudra di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
4. Kelenteng Ong Ya Kong di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
5. Kelenteng Tua Pek Kong di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
6. Kelenteng Tiau Hau Biao di Jalan Asahan, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
7. Kelenteng Depan Kantor Pengadaian di Jalan Sudirman, Kelurahan Perwira, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
8. Kelenteng di Jalan MT Haryono, Kelurahan Perwira, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
9. Kelenteng Huat Cu Keng di Jalan Juanda, Kelurahan TB Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
10. Kelenteng di Jalan Juanda, Kelurahan TB Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.
11. Yayasan Sosial di Jalan Mesjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan.


Sumber: Merdeka.com & Detik.com

27 Responses to "Minta Volume Adzan Dikecilin, Ribut! Vihara Dirusak Dibakar! Ini Kronologi Dari Polisi!"

  1. Udah ga hran...myoritas agma ga ada yg anarkis...?!?!

    BalasHapus
  2. Kalau ditanya siapa yang salah, saya akan menyalahkan sipelaku membakar. Tempat ibadah itu gak salah, kenapa harus dibakar, toh juga si korban cuma minta kecilin toa nya, tapi warga situ gak mau terima, emang yang punya telinga cuma yang membakar?? Katanya harus saling menghargai, lalu bagaimana dengan tindakan sipembakar harus sampai berbuat demikian? Jangan selalu merasa benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. my land, my rules, dont like it, screw your momma(di otak na yg bakar2 cma itu doang tau na)

      Hapus
    2. tanah mu di arab ..bodoh banget!!
      tanah indonesia ini dulu BUddhism_Hindu..masuk waliSongo baru jadi islam..
      belajar sejarah kau tukang becak!!

      Hapus
  3. Hidup di Negara Indonesia yang mayoritas beragama Muslim sangat riskan sekali. Apalagi yang berbau atau terlibat warga keturunan tionghoa. Ingat peristiwa di tahun 1998 yang sangat2 menyakitkan sembilu sampai ketulang sum sum. Berbahagia dan bersyukurlah warga keturunan Tionghoa yang sudah bermukim di negara Eropa, USA dan negara lain diluar negara Indonesia. Jangan sekali kali berbuat sesuatu yang menyentuh Agama Islam, yang berakibat fatal dan yang tak bersalah ikut menjadi korbannya. Agama yang dijunjung tinggi dan didewa dewakan tidak mengajarkan atau mencerminkan kelakuan yang baik dan positive bahkan sebaliknya. Sungguh memalukan dan membuat warga yang sudah berimigrasi ke negara lain menjadi tidak mungkin mau berdiam di Indonesia lagi.

    BalasHapus
  4. Kebiadaban yang sudah menjadi kebiasaan, perilaku manusia setengah hewan ... dan sepertinya masih akan berlangsung terus karena ajarannya memang sudah begitu.

    BalasHapus
  5. Kebiadaban yang sudah menjadi kebiasaan, perilaku manusia setengah hewan ... dan sepertinya masih akan berlangsung terus karena ajarannya memang sudah begitu.

    BalasHapus
  6. Semua Agama Mengajarkan Hal Yang Baik,Hanya Manusianya Saja Yang Membuat Tidak Baik..Pikiran Buruk,Nafsu Keinginan & Ego Lah Yang Membuat Kita Terjerumus Ke Perbuatan Tidak Terpuji/Manusiawi...Saudara2ku Semua,Marilah Kita Mencoba Melawan Nafsu Keinginan,Pikiran Buruk Dan Ego Kita Sendiri... Pikiran Baik,Perbuatan Baik,Ucapan Baik,Dan Tidak Egois Pasti Akan Membawa Kebahagian & Kedamaian...
    Kalau Semuanya Itu Sudah Kita Kuasai,Pasti Kita Semua Hidup Aman Damai Dan Bahagia Bersama-Sama...
    Semoga Kita Akan Selalu Sadar Dengan kehidupan Kita Yang Sementara Ini.....

    BalasHapus
  7. kalo setan sdh kumpul ama setan ya begini jadinyaa.
    lagi sembahyang kayak malaikat jibril,siap sembahyang malaikat lucifer waaaadddaaooo

    BalasHapus
  8. Rusuh terus, tai aj isi kepalanya

    BalasHapus
  9. Rusuh terus, tai aj isi kepalanya

    BalasHapus
  10. Yg salah 1 org,yah bermasalahnya yah sama org itu ajalah, kok vihara2 yg tak bersalah tak tau apa2 dibakar, gak ada sangkut pautnya, aneh ya...nih pasti ada privokator, karma berlaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diam n tunggu saja yg membakar vihara, klo wktuny tiba, mrk akan kacaubalau sndriny...

      Hapus
  11. Bukan masalah di agamanya. Emang manusia2nya yang mental tai. Bisanya rusuh doang. Semua hal musti diributin. Negara bobrok gara2 rakyatnya ga pny otak semua.

    BalasHapus
  12. mesti nya bakar aj tu mesjid yg di datengin M.. percuma pada ke mesjid kalau akhlak nya kaya gitu..
    yg jadi pertanyaan, ntah pemimpin/pengajar di mesjid disana yg ngajarin nya bakar" tempat ibadah lain kaya gitu, atau itu mesjid jadi"an yg ngajarin ajaran sesat aliran FPI yg tau nya cm bikin rusuh.. setau saya agama islam ga pernah ngajarin kaya gitu..

    BalasHapus
  13. Mesti nya bakar aj mesjid disana. Percuma ke mesjid kalau akhlak nya kaya gitu.
    yang jadi pertanyaan nya, ntah pemimpin/pengajar di mesjid itu yg ngajarin nya ga bener, ATAU itu mesjid jadi"an yg ngajarin ajaran sesat kaya FPI yang main bakar dan bikin rusuh?
    setau saya agama islam ga pernah ngajarin kaya gitu..

    BalasHapus
  14. dulu gereja dimana tempat saya beribadah pernah ditegur oleh umat agama lain, dibilang suara band ibadah kami mengganggu. tapi, karena kami terutama Gembala Gereja kami sangat mencintai Agama dan Tuhan kami, maka Gembala kami pun mencari solusi agar kami tetap bisa beribadah dengan baik dan tanpa mengganggu ketenangan umat agama lain. yaitu dengan cara membuat ruangan ibadah kami dengan ruang kedap suara.. jadi kami masih bisa memuji dan menyembah Tuhan kami tanpa mengganggu umat agama lain.. karena dalam agama kami yang sungguh2 mengerti cara mengasihi dan menghormati Tuhan kami tidak akan mau membuat Tuhan kami memikul salib untuk yang ke-2 kalinya... itu lah.. seharusnya memang umat muslim sedikit lebih cerdas..!! ibadah gak perlu teriak2 !! yang penting hati bersih jiwa bersih pikiran bersih... hidup penuh dengan KASIH.. dan mempunyai otak !!.. ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya.. saya komen kata2 anda (ibadah gaperlu teriak2) kapankah ibadah kita teriak2?? Adzan itu panggilan ibadah,itu sudah dari zaman nabi dulu. APA BUDAYA NENEK MOYANG MAU KALIAN HILANGKAN BEGITU SAJA? kalau maksud anda triak yg lain itu bukan triak tapi karna ibadah kita dipimpin 1imam jadi dia harus baca doa keras agar didengar oleh semua jamaahnya..karna spy kita dgr bagaimana doanya dan mendengar printah untuk sujud dll. saya muslim tapi sy jga mrasa prihatin dgn kejadian ditanjung balai.. dlu kejadian ini prnh trjadi ditmpt tinggl saya,tapi semua diselesaikan baik2. Dan saya tegaskan sekali lagi.Tolong jangan salahkan agamanya. Bagaimana jikalau saya membalikkan ini kepada agamamu? Apa anda terima jika agamamu disalahkan atas kejadian ditolikara? Saya rasa tidak,karna ini kesalahan individu. Tidak ada agama mengajarkan hal buruk ini

      Hapus
    2. iya ga perlu teriak knapa pula TOA sampai Puluhan Buah??
      kalau tempat ibadah di dalam masjid ga perlu juga kale toa sampai puluhan buah,
      coba puluhan buah toa tersebut taruh di dalam masjid,coba dech,,bisa pada pecah gendang telinga kalian..
      sekarang gw kalau dengar adzan,gw ga perlu lagi matikan music dll,loudspeaker 2buah saya masih kalah sama puluhan buah toa...

      Hapus
  15. Perilakumu mencerminkan ajaran agamamu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya? Bagaimana kalau saya bilang,perilakumu mencerminkan ajaran orang tuamu?

      Hapus
  16. Manusia setengah hewan, beraninya bakar tempat ibadah.
    terkutuklah!!!

    BalasHapus
  17. Oke Sindi Triferta komentar anda cukup bagus.. cuma saya harapkan personil dari agama anda tidak lagi berbuat yang tidak pantas.. RASIS semoga para umat muslim dari bayi sampe kakek nenek tidak ada yang berbuat semena-mena lagi kepada umat lainnya! jangan suka bikin RUSUH lagi yaa...

    BalasHapus
  18. islam... cari literatur..baca sejarahnya..maka semua ini akan masuk akal,bahkan indonesia sejuta kali lebih baik krn islam di indonesia tidak spt di tmpt asalnya.

    BalasHapus
  19. Komen kalian tanpa melihat kenyataan yg ada di seluruh dunia,di mana mayoritas memang berkuasa.agama apapun bila dia menjadi mayoritas maka akan berkuasa.agama buda dan hindu pun bila mayoritas maka akan berkuasa...lihat dg mata jangan asal ngomong..kristen juga sama.yg jajah tanah indonesia itu belanda,portugis,jepang,gak ada orang arab itu dalam sejarah..tapi mengapa ajaran nya justru lebih bisa di terima daripada para penjajah,he he jangan bilang karna orang indonesia bodoh...pikir pikir yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru sekali ini sy liat onta bisa ngetik dan nulis bahasa manusia. LOL

      Hapus
  20. Orang yg bakarnya masih bocah semua kali
    Masa nggk tau mana yang rasional
    Tempetnya pun bukan milik pribadi, melainkan milik bersama
    Ya kompromi dikit la
    Viharanya juga nggk ad yg slh.. musik yg dimainkan juga kecil
    Jika suara microphone masjidnya memang kebesaran.. ya kompromi untuk di kecilkan sedikit lah.. lagian org masjidny nggk mikirin coba, dipikir duniany milik dia ap.. nggk peduli ama tetangga yang denger suara besarny..
    jdi, yang salah itu orang masjid n warga yang pikirannya kyk anak umur 10tahun.. yang kalau marah.. langsung berantem..
    Semoga dapat hukuman dari tuhan dah itu warga bloonny..

    BalasHapus