Pengamat: Satu Orang Ahok Sudah Bikin Parpol-Parpol Panik!

Pengamat: Satu Orang Ahok Sudah Bikin Parpol-Parpol Panik!


Pemilihan Gubernur terbilang masih lama. Tetapi panasnya sudah begitu terasa. Ditambah lagi dengan banyaknya figur yang muncul dari berbagai latar belakang, yang maju sebagai calon gubenur. Dari mulai pengusaha hingga bekas menteri yang sekaligus bekas calon presiden,  ada juga pensiunan jenderal dan public figure pula. Meski demikian perhatian tetap tertuju pada calon pertahana Basuki Tjahja Purnama atau Ahok yang berani maju lewat jalur non partai politik atau jalur independen.

Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Syamsuddin Harris, menyebutnya sebagai sebuah fenomena yang unik,  karena Ahok berani maju lewat jalur independen di waktu yang terbilang sangat singkat menjelang Pilkada.

Bahkan menurutnya, pembukaan pendaftaran calon gubernur yang dilakukan partai politik (partai besar sekelas PDIP pun melakukannya) mengindikasikan sebuah kebingungan dan kepanikan untuk melawan Ahok.

Syamsudin Harris mempertanyakan, apakah parpol tidak memiliki kader yang cukup mumpuni untuk diusung sehingga harus membuka pendaftaran calon dari luar?

“Saya pikir fenomena Ahok itu unik. Beliau meninggalkan parpol menjelang pilkada dan menyatakan maju secara independen. Saya pikir parpol bukan semata-mata bingung tapi juga panik, sebab parpol tidak memiliki kader yg dianggap layak. Maka yang dilakukan PDIP, itu fenomena yang unik juga dengan membuka pendaftaran calon,” ujar Syam dalam acara ‘Perlukah Mencari Lawan Ahok?’ di Es Teller 77, Jalan Adityawarman No 61, Jakarta Selatan, Rabu (20/4/2016).

Syam menilai para calon yang ada sekarang tidak ada yang layak bahkan tidak memiliki nilai jual untuk melawan Ahok.

“Pembukaan calon sebenarnya kepanikan dari parpol karena tidak ada imajinasi melahirkan pemimpin dari kader internal. Momentum Pilkada bukan cuma pengadilan bagi parpol tapi juga ke politik itu sendiri. Saat ini Ahok sedang melawan politik topeng yang sedang dimainkan oleh parpol. Di depan bilang mau berbakti untuk rakyat, padahal di belakangnya ingin mencuri uang rakyat,” ungkapnya.

Jika nanti Ahok gagal saat tahap verifikasi oleh KPU, menurut Syamsuddin, sangat mungkin ada konspirasi dari partai politik, apalagi Ahok sudah dianggap musuh bersama. Karenanya, penting adanya pengawasan publik untuk mengantisipasi konspirasi tersebut.

Kasus RS Sumber Waras yang saat ini terus berhembus diyakini Syamsuddin tidak akan banyak berpengaruh. Elektabilitas Ahok diyakini tetap tinggi.

“Bagi saya, yang penting adalah mengawal rasionalitas pilkada. Bila dalam 10 bulan ke depan tidak ada calon yang menonjol, belum ada pesaing untuk ahok. Oleh sebab itu, parpol jangan maksa mencari lawan Ahok,” tutupnya.

Sebelumnya survei Charta Politika pada 15-20 Maret 2016 lalu menghasilkan data, ternyata sebagian besar pemilih PDI-P di DKI Jakarta memilih Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta.

Dari 400 responden Charta Politika, pemilih PDI-P paling besar, yakni sebanyak 19,3 persen. Dari responden yang merupakan pemilih PDI-P itu, sebanyak 67,5 persen memilih Ahok kembali menjadi gubernur DKI Jakarta.

Kader PDI-P yang digadang-gadang menyaingi Ahok, yakni Tri Rismaharini, hanya mendapat 14,3 persen. Sementara bakal cagub lainnya seperti Yusril Ihza Mahendra (3,9 persen), Abraham Lunggana (2,6 persen), dan Hidayat Nur Wahid (1,3 persen) mendapat kurang dari lima persen. Sisanya, 10,4 persen, tidak memilih atau tidak menjawab.


Source: jurnalpolitik.com

1 Response to "Pengamat: Satu Orang Ahok Sudah Bikin Parpol-Parpol Panik!"

  1. verifikasi lapangan pasti gagalkan ahok. Produk akal2an DPR ini mujarab walau sama sekali tak masuk akal sehat

    BalasHapus