6 Tipe Masyarakat Bawah Ini Terancam Bila Ahok Tak Jadi Gubernur Lagi, Alasannya Bikin Sedih!

6 Tipe Masyarakat Bawah Ini Terancam Bila Ahok Tak Jadi Gubernur Lagi, Alasannya Bikin Sedih!


Ahok sangat terkenal dengan sikap ceplas-ceplosnya dan lebih tempramental ketika menanggapi suatu masalah.

Tetapi, dibalik kegalakannya tersebut ada cerminan ketegasannya seorang pemimpin yang membela rakyat kecil di Jakarta.

Ini bukanlah hanya omongan semata namun sudah dibuktikan dalam berbagai kejadian yang terjadi di Jakarta. Oleh karena itulah kali ini kami akan mengulas kisahnya! Yuk simak!

1. Penggali Kubur

"Dulu gaji kami hanya Rp 300ribu sebulan. Alhamdulillah, sekarang digaji sesuai UMR Jakarta. Terima kasih Pak Ahok lanjutkan program PHL ini. Salam untuk Pak Ahok".

Itulah bentuk kegembiraan yang diungkapkan empat pria penggali kubur di Tanah Kusir Jakarta. Keempat pria itu memakai seragam kaos berwarna hijau bertuliskan 'Buser Makam' dan 'PHL' yang kepanjangannya Pekerja Harian Lepas. Penggali kubur ini biasa dipanggil Tim Buser Makam.

Mereka adalah Erwin Kurniawan, Tedi Suhendi, Endang S, dan Uci Sanusi. Dengan keringat bercucuran, keempatnya tetap bersemangat menggali kuburan, meski saat ditemui Sabtu (28/2/2016) sore itu, mereka telah menggali lima kuburan.

"Sehari kami bisa menggali 5-10 kuburan. Lebaran pun tetap kerja. Kalau ada yang meninggal akan dikubur, ya kami tetap kerja meski harus sampai malam hari gali kuburnya," ungkap Erwin.

Sebelum Pemprov DKI Jakarta menjalankan sistem kontrak kerja langsung dengan sistem pekerja harian lepas (PHL), mereka sebelumnya bekerja di bawah perusahaan outsourcing.

"Dulu kami hanya terima dari perusahaan atau yayasan hanya Rp 300ribu sebulan, lalu naik jadi beberapa ratus ribu. Ya cukup tidak cukup, gaji segitu untuk hidup satu bulan," ungkap Erwin.

Tedi Suhendi menambahkan, mereka tetap menjalankan profesi menggali kubur itu lantaran tak ada pekerjaan lain. Walau digaji hanya ratusan ribu rupiah per bulan, mereka harus setiap saat bekerja. Tidak peduli apakah itu Lebaran, atau hari Minggu maupun tanggal merah.

Uci berkisah, pada Lebaran beberapa waktu lalu, ia hendak salat Idul Fitri lalu bersilaturahmi seperti kebanyakan warga muslim merayakan Lebaran. Tetapi tiba-tiba ada perintah dari bosnya bahwa pagi hari pas Lebaran itu akan ada pemakaman.

"Baju koko dilepas, kami langsung ganti baju,ambil cangkul lalu gali kubur. Jadi lebarannya di kuburan," ungkap Uci.

Untungnya, baru-baru ini Pemprov DKI Jakarta menghapus sistem outsourcing. Di bawah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sistem outsourcing dihapus menjadi kontrak kerja dengan sebutan pegawai harian lepas (PHL).

Mereka sebut dirinya dengan pasukan hijau karena seragamnya berwarna hijau. Jumlah pasukan hijau di seluruh penjuru DKI diperkirakan seribuan orang. Mereka bekerja di Dinas Pertamanan, termasuk penggali kubur.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga memiliki Pasukan Oranye atau Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang tugasnya membersihkan saluran air. Jumlahnya kira-kira juga ribuan orang karena tersebar dari tingkat Kelurahan dan Kecamatan seluruh DKI Jakarta.

"Jadi sekarang kami kontraknya dengan Pemprov DKI Jakarta. Kami di bawah Dinas Pemakaman," kisah Uci yang merasa bangga menjadi PHL Pemprov DKI Jakarta.

Menurut Erwin, pekerja harian lepas yang bekerja di Tanah Kusir kurang lebih 80 orang.

Ada yang bertugas menjadi penggali kubur, kebersihan makam dan menjaga taman.

Saat ditanya apakah gajinya sekarang sudah sesuai yang dijanjikan Ahok yakni UMR DKI Jakarta sebesar Rp 3,1 juta, mereka pun membenarkan.

Hanya saja, pada Januari dan Februari ini, gaji mereka telat dibayarkan.

"Akhir bulan baru dibayarkan. Kami harapkan agar awal bulan bisa dibayarkan sehingga kami bisa pergunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," pinta keempatnya kompak.

2. Tukang Sapu

Syahroni, petugas kebersihan di kawasan Planetarium dan Observatorium, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, merasa kesejahteraan hidupnya sekarang jauh lebih baik.

"Ya kalau dia (Ahok) maju lagi sebagai gubernur saya setuju mbak. Karena, sejak dia jadi gubernur lapangan kerja jadi lebih mudah. Contohnya saya, dulu saya ini cuma pekerja kontrak di PT gitu. Sekarang saya udah kerja sama dinas DKI, gaji juga naik. Jadi saya dukung beliau kalau nyalon lagi. Tapi lihat nanti ke depanlah mbak," kata lelaki berusia 57 tahun, Rabu (9/3/2016).

Bagaimana jika Ahok nanti kalah di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, warga Rawabelong itu berharap itu jangan sampai terjadi.

Tapi, kalau pun Ahok nanti tidak terpilih lagi, ia berharap gubernur selanjutnya dapat memimpin dengan tetap pro kepada masyarakat kecil.

"Pokoknya siapa aja sih nanti yang kepilih yang penting bijak aja sama rakyat. Dan harus berani berantas yang curang-curang di Jakarta. Biar Jakarta bisa lebih baik lah," katanya.

3. Warga Kampung Pulo

Warga Kampung Pulo yang direlokasi ke rumah susun Jatinegara Barat bisa hidup lebih nyaman dan tenang. Fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di rusun cukup memadai.

Salah satu warga, Onin mengatakan, perbedaan yang paling utama adalah tidak banjir lagi. Warga bisa tidur dan beraktifitas dengan nyaman tanpa perlu khawatir akan banjir.

"Waktu di Kampung Pulo banjir datangnya tidak kenal waktu. Kami lagi tidur tiba-tiba air naik. Sekarang sudah nyaman, semua tersedia," kata Onin yang tinggal di Tower A lantai 14, Kamis (18/2/16).

Pengelola telah menyiapkan berbagai macam fasilitas yang dibutuhkan warga. Seperti aula, masjid, dan puskesmas. Anak sekolah juga mendapat sarana transportasi antar jemput secara gratis.

"Rata-rata yang sudah di sini betah, biaya sewa murah. Bahkan ada yang mau nawar rusun saya Rp35 juta. Tapi saya enggak mau. Takut dipenjara," jelas Onin.

Harga sewa unit di rumah susun sederhana sewa Jatinegara Barat hanya Rp300 ribu per bulan. Biaya itu mencakup kebersihan, listrik dan air.

Warga berharap rusun yang mereka tempati saat ini menjadi hak milik, bukan lagi sewa seperti saat ini. “Kami maunya jadi hak milik, supaya lebih enak. Kami terima kasih buat Pak Ahok (Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama),” katanya.

4. Pasukan Oranye (PPSU)

Petugas pemeliharaan prasarana dan sarana umum (PPSU) khawatir akan kesejahteraan mereka apabila Basuki Tjahaja Purnama tidak lagi menjabat gubernur DKI Jakarta.

"Sekarang nasibnya enak, kesejahteraan jadi PPSU meningkat. Tetapi enggak tahu kalau Ahok udah enggak menjabat bagaimana, kita masih ada atau enggak," ujar petugas PPSU Winarto (36) kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (30/12/2015).

Mereka khawatir gubernur yang baru tidak melanjutkan program Basuki dalam meningkatkan kesejahteraan PPSU.

"Kalau gubernurnya beda, ya kita enggak tahu nasibnya jadi bagaimana, soalnya mereka pasti punya peraturan juga," sahut dia.

Walau demikian, dia mengaku tak terlalu banyak berharap terhadap kebijakan Pemprov DKI.

Ia hanya mendoakan gubernur selanjutnya bisa meneruskan program Basuki bila pria yang biasa disapa Ahok itu tidak lagi menjabat gubernur.

"Karena dengan adanya PPSU sendiri, menurut saya dapat membantu warga," ungkap Heru.

5. Pak Ogah

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ingin merekrut Pak Ogah atau pangatur lalu lintas liar di jalan dan pemuda putus sekolah, untuk bekerja di Transjakarta. Mereka akan bekerja sebagai tenaga kebersihan di bus Transjakarta.

"Sederhana saja, ada hitungan per bus. Saya ingin bus bagus-bagus. Misalnya, ada bus Blok M-Kota, begitu bus masuk di Blok M atau Kota, ada tukang bersihnya," kata Ahok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (4/3/2016).

Menurut Ahok, perekrutan ini mengadopsi sistem di  Turki. Begitu bus masuk terminal terakhir, anak-anak muda yang putus sekolah langsung membersihkan sampah di armada tersebut.

"Kan, kalau di stasiun kita bisa pasang mesin. Tapi kalau di busway enggak bisa. Saya belajar dari Turki. Turki mempekerjakan anak muda yang nggak sekolah, pakai tongkat kemoceng gitu," kata dia.

Ahok berharap, pekerjaan ini mampu memberikan penghasilan baru yang lebih layak. Upaya itu juga untuk menghapus keberadaan tukang parkir liar dan Pak Ogah, yang dianggap meresahkan para pengendara.

"Kita mulai rekrut yang mau kerja saja. Karena makin lama dia (Pak Ogah dan tukang parkir liar) enggak bisa kerja lagi. Pak Ogah resmi kita udah banyak," jelas Ahok.

Saat ini Ahok telah mempekerjakan 1.400 Pak Ogah 'resmi', untuk membantu mengatur lalu lintas. Keberadaan petugas Dinas Perhubungan ‎(Dishub) DKI itu, diharapkan mampu menghilangkan keberadaan Pak Ogah yang berkeliaran di jalanan Ibu Kota.

‎"Pasukan bersih-bersih ini enggak pernah sekolah juga enggak apa-apa. Dia kerja shift, kita akan jalan 24 jam. Dia akan dikontrak," ungkap Ahok.

6. Warga Rusunawa

Ternyata ada rasa khawatir di benak para penghuni rusunawa di Jakarta. Mereka takut diusir kalau Ahok tak lagi menjabat DKI-1.

“Pilih saya lagi dong,” kata Ahok sambil tertawa pasca menghadiri suatu acara resmi.

Usai tawanya berlalu, Ahok menjelaskan mereka yang tinggal di rusunawa dibuatkan KTP yang sesuai alamat rusun yang ditinggalinya. Sehingga, kalaupun dia tak lagi menjabat, warga rusunawa punya bukti bahwa mereka berhak menghuni rusun yang sudah disediakan Ahok.

Bagaimana menurut Anda?



Sumber: hatree

0 Response to "6 Tipe Masyarakat Bawah Ini Terancam Bila Ahok Tak Jadi Gubernur Lagi, Alasannya Bikin Sedih!"

Poskan Komentar