CeriaNews.com
Usai Bertemu Jokowi, Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir Berani Serang Rizieq Shihab Dengan Bilang Begini..

Usai Bertemu Jokowi, Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir Berani Serang Rizieq Shihab Dengan Bilang Begini..


CeriaNews.com -Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir mengungkap beberapa hasil pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Salah satu poin yang dikomunikasikan dengan Presiden Jokowi saat saat halal bihalal Idul Fitri adalah mengenai Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.

Bachtiar menyatakan jika telah meminta Presiden membantu untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dituduhkan kepada sejumlah aktivis Islam.

“Selama ini ada ketidakjelasan soal hukum yang menimpa ulama dan aktivis Islam. Karenanya dalam momentum halal bihalal ini kami meminta beliau untuk membantu mendorong penyelesaiannya dengan jalan dialog,” ungkap Bachtiar Nasir dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/6/2017), dikutip dari jpnn.com

Selain perkara yang membelit Habib Rizieq, ia juga menyinggung tentang kasus yang masih berjalan di tempat seperti kasus Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Ustaz Muhammad Alkhattath.

Bachtiar juga mengungkapkan keinginannya agar Habib Rizieq segera kembali ke Indonesia dengan cara yang damai.

“Kami menginginkan Habib Rizieq kembali ke Indonesia, dengan damai tanpa pemaksaan yang akan semakin menambah kegaduhan di tengah umat dan ini akan menghabiskan energi yang tidak produktif,” katanya.

Ia juga menyatakan jika Presiden telah memberikan arahan kepada pembatunya untuk segera mencari solusi.

“Presiden membuka komunikasi dan memberi saran kepada Pak Wiranto yang mengimplementasikannya,” kata pimpinan sejumlah pondok pesantren di bawah naungan AQL Islamic Center ini.

Sumber: jpnn.com
Read More
Tulisan Nophie Kurniawati Ini Tampar Mereka Yang Suka 'Bermain Kasar' dengan Pakde! Share!

Tulisan Nophie Kurniawati Ini Tampar Mereka Yang Suka 'Bermain Kasar' dengan Pakde! Share!


CeriaNews.com - Postingan berikut disadur dari tulisan FB Nophie Kurniawati:

Sudah saya bilang dari sejak jaman Gaj Ahmada masuk islam, kamu tidak bisa main kasar sama Bapak kurus itu. Semakin kamu kasar, semakin kamu kesulitan. Sudah banyak contoh khan?. Dan adakah yang main kasar lalu berhasil mengalahkannya?.

Waktu jadi walikota Solo, di kasari sama Gubernur Jateng, malah makin dicintai dan di bela warganya, dan akhirnya jadi Gubernur DKI. Saat jadi gubernur DKI, dikasari mafia, digoyang demo, dipikirnya seperti gubernur2 sebelumnya, ternyata pendemo ditemui langsung dan selesai. Dan terpilih menjadi Presiden. Awal jadi presiden, berapa partai yang mengeroyoknya? bahkan ada issue ada boikot di parlemen dll. Apa yang terjadi pada partai2 itu?. Sekarang sebagian besar partai pengeroyok jadi pendukungnya. Belum lagi mafia-mafia migas, daging, beras, ikan dll. Semua yang kasar tumbang.

Di serang dengan issue liberal, komunis, antek ini itu. Apa dia tumbang?. No. Bahkan yang bikin issue tentang komunis tentang PKI di tantang untuk tunjukkan dimana PKI nya, akan di gebuk. Lalu di serang dengan issue memusuhi umat islam. Gile lu ndro, umat islam mana yang di musuhi? ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜๐Ÿ˜œ Gue dan jutaan umat islam lain asyik-asyik aja tuh. Tetep bisa beribadah dan menjalankan aktifitas gue dengan aman damai dan nyaman. Dimusuhin apanya?

Maksud loe, memusuhi elo yang kebetulan elo itu muslim gitu?. Nah elo khan yang memposisikan diri sebagai musuh. Faktanya, Jokowi bisa merangkul hampir semua ulama2 besar negeri ini. Kunjungannya ke pondok2 pesantren besar selalu disambut baik dan berjalan sangat baik. Penasehat Presiden adalah ulama-ulama pemimpin ormas besar.

Nah kalau elo sebut nama mualaf2 pendukung pendirian khilafah itu sebagai ulama dan umat islam yang dimusuhi Jokowi, yaelah, itu mah bukan musuh Jokowi, tapi musuh negara. Musuh umat islam dan umat agama lain. Kalau elo suka baca dagangannya si bakul salep yang demen jualan provokasi itu yah, dia mah emang jualan. Gak ada masalah apa2 pun dia tetap akan nulis masalah. Itu khan cara dia cari makan. Gak ada hubungannya sama sekali dengan sikap Presiden atau sikap negara.

Terbaru, GNPF yang sebenarnya gue bingung, kok ada kelompok yang menamakan diri Gerakan Pengawal Fatwa MUI, padahal ada ribuan fatwa, kenapa yang dikawal cuma satu ? ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜„ Dan lucunya gerakan ini tidak diakui oleh MUI sendiri. Gerakan ini sudah berusaha keras menekan seorang Jokowi. Dengan demo dengan seruan, dengan kecaman dll. Apa Jokowi takut ? Tidak.

Kini dengan dalih momen lebaran, mereka akhirnya mengikuti cara mantan2 rival Jokowi yaitu dengan melunak, dengan mendekat. Baru Jokowi mau terima. Yahh... kenapa gak dari dulu2 ente begitu?. Bilang baik-baik mau ketemu gitu. Gosah unjuk gigi mengerahkan masa. Khan katanya kalian ulama, mustinya paham adab berkomunikasi antara ulama dan umara. Ente demo-demo di jalan itu mencontoh siapa?. Udah di nasehati sama ulama besar yang benar-benar ulama, bahwa tereak Allahuakbar sambil demo itu tidak elok, kok masih dilakukan juga. Ada cara yang jauh lebih baik, yaitu silaturahmi, jauhi arogansi.

Sekarang ente-ente mungkin tahu, jadi presiden itu gak gampang. Gak cuma ngurusin satu-dua juta orang doank. Di Indonesia ngurusin ratusan juta orang. Dan itu mustahil bisa memuaskan semuanya. Disaat ente demo minta ini minta itu, Presiden sedang bekerja memenuhi kebutuhan hajat hidup jutaan warga lainnya. Dan ente tereak Presiden tidak perduli rakyatnya. Ente mungkin yang gak peduli rakyat, cuma peduli kepentingan ente sendiri.

Anyway, saya memang bukan pendukung GNPF, tapi bukan pembencinya juga. Langkah bertemu Presiden saya apresiasi, sebab memang begitu yang seharusnya cara yang benar untuk menyampaikan aspirasi. Masa kalah sama netizen biasa?. Sekarang sudah bisa bertemu, mudah2an banyak hal bisa di pahami bersama. Jangan cuma mau di dengerin doank, tapi juga harus mau mendengarkan. Dan jangan memaksa semua keinginannya harus di penuhi. Ingat ada jutaan orang yang berbeda kemauan.

Dan harap di ingat bahwa Indonesia ini negara hukum. Jangan karena ulama atau pemuka agama lalu bisa bebas dari hukum. Jangan karena ulama atau pemuka agama lalu bebas menerapkan hukum pada orang lain. Hukum positif adalah domain penegak hukum. Orang di hukum adalah karena perbuatannya, bukan karena gelarnya atau jabatannya. Dan semua ada prosesnya. Tidak ada itu kriminalisasi ulama, kriminalisasi pendeta, kriminalisasi artis, kriminalisasi gubernur, kriminalisasi warga oleh negara. Yang ada oknum berbuat kriminal atau melanggar hukum.

Sumber: FB Nophie Kurniawati

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.
Read More
Dari Yaman, DPO Habib Rizieq Ajak Para Habaib dan Ulama untuk Cinta NKRI, Simak!

Dari Yaman, DPO Habib Rizieq Ajak Para Habaib dan Ulama untuk Cinta NKRI, Simak!


CeriaNews.com - Imam besar FPI Habib Rizieq Syihab berbicara dari Yaman lewat rekaman suara. Rizieq berpesan kepada para habaib dan ulama untuk cinta kepada tanah air dimana pun mereka berada.

Habaib merupakan kata jamak dari habib. Habib adalah gelar bangsawan yang secara khusus diartikan sebagai keturunan Rasulullah Muhammad SAW melalui Fatimah az-Zahra. Di Indonesia, gelar habib ditunjukkan kepada seseorang yang memiliki pengetahuan agama Islam yang mumpuni dari golongan keluarga Muhammad SAW. Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib.

"Saya ingatkan bahwa habaib dari dulu sampai sekarang, dimana pun mereka berada, mereka selalu cinta pada negeri mereka, kepada tanah air mereka. Dan jadikanlah tempat kemana mereka lahir sebagai negeri yang hadir harus mereka jaga dan mereka pelihara," ujar Rizieq, Senin (26/6/2017).

Rizieq mengingatkan perjuangan para habaib terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu ia mengimbau kepada habaib di generasi saat ini untuk selalu membela dan menjaga keutuhan NKRI.

"Maka dari itu para habaib yang lahir di Indonesia sejak dulu sampai hari ini tidak pernah bisa diragukan nasionalismenya, rasa kebangsaannya, cinta pada tanah airnya, sehingga mereka selalu berjalan dan berjuang untuk negeri mereka," paparnya.

"Maka dari itu saya ingatkan kepada generasi muda para habaib yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia, belajar dari Indonesia, tidak pernah merasa sebagai orang asing. Jangan pernah merasa numpang, ini negerimu, ini tanah airmu yang wajib kau bela, yang wajib kau jaga, yang wajib kau pertahankan dari siapa pun yang ingin menghancurkannya," tambahnya.

Rizieq mengajak seluruh habaib di Indonesia bersatu. Menurutnya, para habaib tidak boleh menjadi pemecah belah bangsa.

"Manakala para habaibnya bersatu, Insya Allah umat Islam dari Sabang sampai Merauke akan ikut bersatu. Maka dari itu para habaib harus jadi perekat, habaib tidak boleh menjadi pemecah belah, habaib harus jadi pemersatu, habaib harus ada di barisan terdepan untuk membela Allah dan Rasulnya," tutupnya.

Sumber: Detik.com
Read More
Denny Siregar Beberkan Efek Pecah Ombak Usai Pertemuan Jokowi dengan GNPF-MUI di Istana

Denny Siregar Beberkan Efek Pecah Ombak Usai Pertemuan Jokowi dengan GNPF-MUI di Istana


SEMUA AKAN JOKOWER PADA WAKTUNYA..

Memang Jokowi itu cerdas dan halus sekali permainannya..

Seperti yang kita bahas kemarin, betapa strategi pecah ombak Jokowi dalam menerima GNPF MUI ke istana saat open house membuat kecele banyak orang, termasuk pendukungnya sendiri.

Saya sendiri sulit bertindak seperti dia saat menerima orang yang selalu membenci saya, apalagi merangkulnya.

Tapi pakde itu sangat bisa..

Dan yang terjadi sesudah open house itu, ngamuklah "seseorang yang tidak boleh disebut namanya" dan menyuruh seluruh pimpinan GNPF MUI untuk ke Jogja menemui dirinya di lebaran kedua. Sudah mulai muncul bibit-bibit ketidak-percayaan diantara mereka dan skalanya akan membesar ke depannya.

Para unsur pimpinan GNPF MUI pasti akan menjelaskan bahwa kedatangan mereka ke istana adalah bagian dari strategi politis untuk negosiasi masalah rekonsiliasi dan kriminalisasi. Tapi siapapun yang tahu Jokowi pasti akan paham, bahwa Jokowi bukan orang yang bisa di negosiasi dalam hal apapun juga.

Bahkan Panglima TNI - dalam wawancara dengan Rosiana Silalahi di Kompas TV - sudah membahasakan betapa keras kepalanya Jokowi jika ia sudah ada maunya.

Pakde bukan orang yang takut bahaya, tetapi juga bukan orang yang tanpa perhitungan. Ia adalah seorang tukang kayu, yang memperhatikan detail setiap produksi meubelnya. Begitu juga yang ia lakukan dalam setiap langkah politiknya..

Diterimanya pimpinan GNPF MUI ke istana, sebenarnya jauh lebih berbahaya bagi mereka dibandingkan ketika mereka ditolak. Kalau ditolak, maka medan perang semakin jelas. Tapi ketika diterima seperti itu, Jokowi sudah melepas "penghalang" diantara mereka dan masuk lebih dalam ke jantung pertahanan lawan.

Lihat saja reaksi dari kubu lawan berbeda-beda. Ada yang mengutuk, ada yang memuji bahkan ada juga yang panik. Semua perkiraan mereka terhadap langkah strategis Jokowi ke depan berantakan dalam waktu semalam..

Situasi ke depan ini akan membuat medan pertarungan di pilpres 2019 nanti semakin rumit.

Barisan haters Jokowi akan terpecah.

Mereka yang tadinya yakin bahwa Jokowi adalah "musuh ulama" mulai ragu dengan diterimanya ulama versi mereka dengan tangan terbuka oleh Jokowi. Akan timbul simpati kepada sang maestro dan menimbulkan perdebatan di internal mereka sendiri.

Sedangkan di sisi lain, haters Jokowi akan muncul rasa tidak simpati kepada para petinggi GNPF MUI dengan men-cap mereka sebagai penjilat, penghianat, muka dua, orang bayaran dan sebagainya.

Itulah kenapa "seseorang yang tidak boleh disebut namanya meski sudah tua itu" marah besar. Semua kejadian ini diluar prediksinya dan ia harus merekonstruksi kembali strategi politiknya.

Dan nanti - bahkan di pendukung Jokowi juga akan muncul kebingungan meski kecil skalanya. Mereka yang sudah menemukan cara mendeteksi "dimana ada Islam radikal, maka jangan pilih pemimpin yang dipilihnya" akan bengong ketika ternyata ada satu dua kelompok radikal yang mulai merapat ke Jokowi.

Meski dibahasakan bahwa open house itu terbuka untuk siapa saja, jangan lupa bahwa pertarungan pilpres 2019 sudah dimulai sejak Pilgub DKI kemarin. Jadi, apapun yang terjadi belakangan ini tidak akan lepas dari unsur langkah-langkah strategis politik menuju kesana..

Dalam permainan catur, selain kecermatan, kemampuan memprediksi dan bergerak sesuai langkah lawan termasuk unsur penting dalam meraih kemenangan. Dan ketika lawan melangkah dengan strategi mereka mendekati Jokowi, maka Jokowi pun melangkah dengan pola yang tidak terduga..

Saya ketawa ketika ngopi dengan seorang teman yang bertanya, "Bagaimana prediksi abang dengan langkah-langkah lawan politik Jokowi sekarang ini ?"

Saya cukup menjawab, "Semua akan Jokower pada waktunya.."

Seruput...

Sumber: FB Denny Siregar

Silahkan dishare jika berkenan, terima kasih.
Read More
Hanya Gara-Gara Ketemu Jokowi, Seluruh Pengurus GNPF-MUI Dipanggil Amien Rais. Simak!

Hanya Gara-Gara Ketemu Jokowi, Seluruh Pengurus GNPF-MUI Dipanggil Amien Rais. Simak!


CeriaNews.com - Ketua Penasehat Presidium Alumni 212, Amien Rais langsung bereaksi usai mengetahui adanya pertemuan antara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Ketua Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo, seluruh anggota dan jajaran pemimpin GNPF MUI telah dipanggil ke Yogyakarta untuk menghadap Amien Rais.

“Kami dipanggil mendadak sama Pak Amien untuk membahas soal itu (pertemuan dengan Presiden Jokowi). Tidak ada rencana saya sebelumnya di hari kedua lebaran mau kemari,” kata Sambo usai menemui Amien di Yogyakarta, Senin (26/6/2017).

Sambo tidak menampik bahwa pertemuannya itu membahas dampak dari pertemuan Jokowi dan GNPF MUI terhadap kepentingan perjuangan umat Islam.

“Termasuk dampak buruk bagi kredibilitas dan nama baik para ulama, terutama Habib Rizieq di mata umat. Ini yang sangat mungin terjadi,” beber Sambo.

Sambo menegaskan pihaknya akan melakukan sejumlah langkah lain agar perasaan umat Islam yang sebelumnya sangat mempercayai dan menghormati ulamanya, tidak kecewa dengan adanya pertemuan di Istana Negara itu.

“Ya intinya begini, apapun langkah yang dilakukan kawan-kawan seperjuangan pasti ada konsekuensi hukum dan politik yang harus dihadapi setelah sekian banyak aksi yang dilakukan dengan melibatkan jutaan umat itu,” tandasnya.

Diketahui, dalam pertemuan Di Istana Negara, Minggu (25/6/2017) kemarin, Presiden Jokowi didampingi Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin, Menko Polhukam Wiranto dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno.

Sementara dari GNPF MUI hadir Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir, Wakil Ketua GNPF MUI Zaitun Rasmin, Tim Advokasi GNPF MUI Kapitra Ampera, Anggota Dewan Pembina Yusuf Marta, Plt Sekretaris Muhammad Lutfi Hakim, Imam FPI Jakarta Habib Muchsin dan Tim Advokasi GNPF lainnya, (Kriminalitas.com)
Read More
Terungkap Identitas Khatib Yang Khotbah Soal Kasus Ahok Saat Sholat Ied, Share!

Terungkap Identitas Khatib Yang Khotbah Soal Kasus Ahok Saat Sholat Ied, Share!


CeriaNews.com - Panitia Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) Kota Wonosari tidak menggelar seleksi khusus dalam pemilihan Ichsan Nuriansah Bajuri sebagai khatib untuk menyampaikan khotbah dalam Salat Id, Minggu (25/6/2017).

Khatib hanya dipilih berdasarkan kecakapan dan pengalaman menyampaikan khotbah. Pembatasan isi khotbah pun juga tidak dilakukan, dengan asumsi khatib mengetahui situasi dan kondisi masyarakat.

Ketua PHBI Kota Wonosari, Iskanto, menuturkan khatib yang ditunjuk pada Salat Id merupakan seorang dosen berpredikat doktor di salah satu universitas swasta di Jogja. Selain itu, dia juga merupakan pengurus ormas di DIY.

Namun, dengan isi khotbah yang dinilai Iskanto terlalu vulgar, PHBI akan lebih selektif dalam pemilih khatib pada waktu yang akan datang. “Tidak dengan seleksi tapi mungkin akan minta saat khotbah harusnya begini dan begitu,” ujarnya, Minggu.
Iskanto sebenarnya tidak menyangka isi khotbah yang disampaikan Ichsan akan membahas tentang isu politik yang dinilainya vulgar. “Memilih [Ichsan] orang yang bisa khotbah. Kalau tadi si khatib menyampaikan seperti itu, ya bukan karena kami [PHBI] tapi karena si khatib yang diungkap memang seperti itu,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan dalam khotbah, yang disampaikan oleh Ichsan, dia menyampaikan tentang penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. “Ahok merupakan penista agama,” katanya.

Menurut Ichsan, seorang penista agama tidak harus dibela ataupun dibantu, apalagi dibantu oleh negara termasuk aparat kepolisian. Dia mendukung sepenuhnya hukuman terhadap Ahok agar menimbulkan efek jera dan tidak ada lagi yang menistakan agama.

Akibat isi khotbah yang bermuatan politik tersebut, sejumlah jemaah yang tidak terkesan langsung meninggalkan lokasi salat Idulfitri. “Khatib menyampaikan kalau pemerintah dan polisi cenderung membela Ahok, dengan melindungi aksi-aksi yang membela Ahok. Dan dia [khatib] bilang juga kalau Pemilu 2019 akan lebih karut marut lagi. Saya dan keluarga langsung pulang,” kata salah seorang jemaah, Ervan Bambang.



Khatib Salat Id, Ichsan Nuriansah Bajuri, menyampaikan khotbah di Alun-Alun Wonosari, Minggu (25/6/2017). (JIBI/Harian Jogja/Irwan A. Syambudi)
Read More
Jonru Kecam Aqidah Prof Quraish Shihab, Perbandingan Karya Jonru dengan Prof Quraish Shihab Ini Bikin Merah Mata Pendukung Jonru!

Jonru Kecam Aqidah Prof Quraish Shihab, Perbandingan Karya Jonru dengan Prof Quraish Shihab Ini Bikin Merah Mata Pendukung Jonru!


CeriaNews.com - Tokoh media sosial Jonru Ginting yang juga kader PKS dalam akun facebooknya lagi-lagi menyerang Prof Quraish Shihab, dalam akunnya Jonru memuat berita yang dimuat oleh detik tanggal 23 Juni 2017 dengan judul "Quraish Shihab akan Jadi Khatib Salat Id di Masjid Istiqlal", namun dalam akun facebooknya ada gambar yang tertulis:

"Shalat Idul Fitri Tahun ini, mari LUPAKAN Istiqlal. Masih banyak masjid lain. Carilah masjid yang khatib Shalat Id-nya beraqidah lurus, Ahlussunnah wal Jamaah. Masa kita harus mendengar ceramah dari orang yang tidak mewajibkan jilbab bagi muslimah, berpendapat Rasulullah tidak dijamin masuk surga, dan pembela Karbala?".



Pertama Jonru menganggap Prof Quraish Shihab tidak beraqidah Aswaja, dan yang kedua dia sudah melakukan tindakan fitnah dengan mengatakan bahwa Prof Quraish Shihab pernah berpendapat Rasul tidak masuk surga, ketiga Jonru menuduh Quraish Shihab sebagai Syiah, keempat Jonru mengajak muslim Jakarta pada khususnya untuk tidak shalat Eid di Masjid Istiqlal, hanya karena imam-nya seorang tokoh ulama yang membela Pancasila dan anti intoleran.

Salah seorang Netizen Abdul L Wahab juga memberikan kritikan:

"Sudah lihat kan, betapa jauh berbedanya antara Jonru dengan Prof Quraish. Jadi anda bisa memilih ketika mau menjadikan siapa yang mau menjadi refrensi bukan hanya dalam berfikir, tapi juga dalam menjalani kehidupan.

Bagi saya, sangat tak pantas apa yang di posting oleh jonru, dimana dia mengajak orang untuk melupakan ISTIQLAL, hanya karna yang Khotib Habib Quraish Shihab cucu dari sang pemberi syafaat Sayidina Muhammad SAW yang sudah jelas Ahlussunah Wal Jamaah dan karya-karyanya juga sangat luar biasa sekali bagi perkembangan Islam di Indonesia khususnya. Apakah kamu mau ikut ajakan jonru???.

Untuk mengenal lebih dekat karya Jonru dan Prof Quraish Shihab agar tak salah mencari panutan bagi kita semua.

Karya Jonru orang yang sangat luar biasa:

Novel Cinta Tak Terlerai, penerbit DAR! Mizan, 2005
Kumpulan Cerpen Cowok di Seberang Jendela penerbit LPPH, 2005.
Menerbitkan Buku Itu Gampang! penerbit Tiga Serangkai, 2008.
Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat penerbit Dapur Buku, 2009.
Novel Cinta Tak Sempurna, penerbit Dapur Buku, 2014.
Saya Tobat! penerbit Dapur Buku, 2015.
Sebagai Penyusun


Karya Prof Quraish Shihab:

Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984).
Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 1998).
Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998).
Pengantin al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 1999).
Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999).
Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999).
Panduan Puasa bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, Nopember 2000).
Panduan Shalat bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, September 2003).
Anda Bertanya,Quraish Shihab Menjawab Berbagai Masalah Keislaman (Mizan Pustaka).
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan, 1999).
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Al Quran dan Hadits (Bandung: Mizan, 1999).
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah dan Muamalah (Bandung: Mizan, 1999).
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999).
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Tafsir Al Quran (Bandung: Mizan, 1999).
Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987).
Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987).
Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990).
Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departemen Agama).
Membumikan al-Quran; Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994).
Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1994).
Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996).
Wawasan al-Quran; Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996).
Tafsir al-Quran (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997).
Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Quran (Bandung; Mizan, 1999.
Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999).
Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000).
Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran (15 Volume, Jakarta: Lentera Hati, 2003).
Menjemput Maut; Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta: Lentera Hati, 2003).
Jilbab Pakaian Wanita Muslimah; dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004).
Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004).
Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005).
Logika Agama; .Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005).
Rasionalitas al-Quran; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006).
Menabur Pesan Ilahi; al-Quran dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006).
Wawasan al-Quran Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006).
Asm al-Husn; Dalam Perspektif al-Quran (4 buku dalam 1 boks) (Jakarta: Lentera Hati).
Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2007).
Al-Lubb; Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Ftihah dan Juz Amma (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2008).
Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati).
Berbisnis dengan Allah; Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta: Lentera Hati).
Quraish Shihab Menjawab; 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, 2008).
Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2009).
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Jin dalam al-Quran (Jakarta: Lentera Hati).
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Malaikat dalam al-Quran (Jakarta: Lentera Hati).
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Setan dalam al-Quran (Jakarta: Lentera Hati).
Quraish Shihab Menjawab; 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2010).
Al-Qurn dan Maknanya; Terjemahan Makna disusun oleh M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2010).
Membumikan al-Qurn Jilid 2; Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, Februari 2011).
Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011).
Doa al-Asm al-Husn (Doa yang Disukai Allah SWT.) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2011).
Tafsr Al-Lubb; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qurn (Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012)."




Sumber: Berantai.com
Read More
Momen Bahagia Djarot Dan Keluarga Rayakan Lebaran Dengan Istri Ahok

Momen Bahagia Djarot Dan Keluarga Rayakan Lebaran Dengan Istri Ahok


Happy Farida, istri Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, menyampaikan selamat Hari Raya Idulfitri, 1 Syawal 1438 H, Minggu (22/6/2017).

"Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir batin. Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 Hijriah," kata Happy lewat akun Instagram-nya.

"Semoga puasa dan amal kita menjadi berkah, sehingga kita bisa kembali fitri dan meraih kemenangan. Saya harap di hari yang fitri ini, kita bisa saling memaafkan," sambungnya.

Selain itu, Happy juga merasa senang karena merayakan Lebaran 2017 ini bersama dengan Veronica Tan, istri mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Hal itu disampaikan Happy dengan mengunggah foto kebersamaannya bersama Veronica dan Djarot.

"Senangnya dihari yang fitri ini, kita semua bisa memaanfatkan untuk mempererat silaturahmi dan juga memaafkan," ujarnya.

"Salam dari kami untuk teman-teman dan warga Jakarta, semoga persahabatan yang ada akan semakim erat dikemudian hari," ujar Happy.

Sumber: Berantai.com
Read More
Ahok Bercerita Suatu Malam Di Rutan Pernah Sesak, Padahal Fisik Sehat. Ini Cerita Selengkapnya...

Ahok Bercerita Suatu Malam Di Rutan Pernah Sesak, Padahal Fisik Sehat. Ini Cerita Selengkapnya...


CeriaNews.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menceritakan bagaimana kesehariannya di dalam Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, tempat di mana ia ditahan setelah divonis bersalah dalam kasus penistaan agama dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Cerita Ahok sejak awal masuknya dan beradaptasi dengan lingkungan barunya itu, dikisahkan kembali oleh David Faniesin, yang bertemu dengan suami Veronica Tan itu pada Jumat (16/6/2017).

Diakhir obrolannya, menurut David, Ahok mengungkapkan keinginanya untuk kembali melayani masyarakat, khususnya warga Jakarta.

"Satu concern Bapak yang belum terjawab. Bapak kangen melayani warga Jakarta. Kata Bapak, melayani warga itu sudah menjadi passion dan hobi dia. Tak pernah ada rasa bosan menjalaninya. Itu satu-satunya hal yang belum bisa dia atasi hingga kini," ujar David.

"Kamu tahu bagaimana menjawab pertanyaan Bapak yang ini: Kapan ya saya bisa kembali bermanfaat bagi orang banyak?," begitulah pertanyaan Ahok yang disampaikan kepada David dan rombongan yang menjenguknya.

Berikut cerita lengkap David soal pertemuannya dengan Ahok, yang ditulis di akun Facebook-nya, Selasa (20/6/2017).

APA KABAR AHOK HARI INI?



Janji adalah utang. Dan, ini bukan janji politik sehingga saya tak perlu banyak bercakap bagus, pasti saya tepati. Sudah banyak yang mendengar bahwa saya dan teman-teman yang pernah bergabung dalam Tim Gubernur Basuki Tjahaja Purnama berkesempatan untuk mengunjungi mantan bos kami, Jumat kemarin. Alhasil, banyak yang ingin mendengar cerita dan pengalaman kami berkunjung. Berhubung saya malas cerita berkali-kali, jadi saya putuskan untuk bercerita dalam satu tulisan. Sebagai catatan, momen saya dan teman-teman mungkin sama, tapi pengalaman yang didapatkan pasti berbeda. Berikut saya bagikan pengalaman pertama saya masuk ke markas polisi elit dalam negeri ini.

Bagi mantan wartawan kriminalitas seperti saya, berkunjung ke penjara bukanlah hal yang luar biasa. Dulu, seringkali saya wara-wiri penjara Polres atau bahkan Polsek, di lima wilayah Jakarta. Saya juga pernah satu kali ke penjara Polda, satu kali ke LP Cipinang dan Rutan Salemba, serta satu kali mengintip ke tahanan sementara KPK di Kuningan. Tapi, kunjungan kali ini berbeda. Walaupun semasa kuliah saya sering melewati daerah Brimob Kelapa Dua, Depok, tak pernah terlintas di pikiran saya bahwa suatu saat nanti saya akan masuk dan mengunjungi salah satu tahanan di sana. Pertama, saya tak punya satu pun keluarga dari kalangan pasukan elit ini. Kedua saya tak berharap kenal dekat dengan tahanan di sana karena biasanya yang ada di dalamnya adalah napi-napi yang dianggap membahayakan negara.

Dua premis saya langsung terbantahkan, karena pada kenyataannya, hari Jumat, 16 Juni 2017, pukul dua siang, saya menjejakkan kaki di dalam Markas Korps Brimob untuk pertama kalinya, dalam rangka menjenguk satu-satunya orang yang saya kenal dan saya anggap keluarga saya sendiri, dengan statusnya sebagai tahanan. Seminggu sebelumnya, asisten pribadi orang yang mau saya jenguk ini terlebih dahulu mendata nama lengkap saya dan teman-teman, serta nomor polisi mobil yang akan dibawa masuk ke dalam. Jadi, ketika rombongan mobil pertama masuk melewati gerbang utama, kami langsung berhadapan dengan tiga polisi yang sigap menghadang mobil kami demi memverifikasi identitas kami masing-masing.

Setelah kartu identitas kami ditahan sebagai jaminan (well, selalu saja ada yang ditahan kalau berhadapan dengan polisi), mobil kami melenggang langsung ke area parkir gedung Provost, Mako Brimob. Masuk ke area ini hampir mirip rasanya dengan masuk ke satu area kompleks perumahan besar di Jakarta. Sudah ada taman yang menyambut kami di depan kompleks, lalu ada area parkir motor polisi, dan jejeran rumah-rumah dinas para prajurit. Seluruh area bersih, rapi, dengan jalanan mulus tanpa cela. Depok yang terkenal panas di siang hari, tidak terlalu terasa di markas ini karena rindangnya pepohonan dan hijaunya tanaman-tanaman di sekeliling. Sempat nampak ada beberapa prajurit apel siang sambil membawa bendera merah putih. Jarak dari gerbang utama ke gedung tujuan kami, gedung Provost, tak terlalu jauh, mungkin sekitar 500 meter.

Sampai parkiran, kami langsung menuju ke satu dari tiga bangunan Provost yang ada di sana. Seperti gedung-gedung polisi pada umumnya, bangunan ini berbentuk kotak kaku dengan dua lantai yang memanjang seolah menyatukan satu bangunan dengan bangunan lainnya. Seorang polisi yang berjaga-jaga langsungaware dengan kedatangan kami. Kami langsung dipersilakan masuk dan duduk di kursi yang tersedia. Saat itu, saya masuk bersama rombongan pertama yang terdiri dari 8 orang. Kami pikir ruangan akan langsung penuh sesak. Ternyata, sudah ada sekitar 15 tempat yang disiapkan untuk menunggu giliran kunjungan. Setelah nama kami didata oleh dua orang polisi wanita berpakaian sipil, kami langsung duduk dan berbincang-bincang. Sesekali kami diingatkan untuk tidak terlalu berisik agar tidak menganggu kegiatan perkantoran Provost di sana. Kami juga masih menunggu rombongan mobil kedua yang terdiri dari 4 orang lainnya. Selain kami, sudah ada 7 orang yang datang lebih dulu, terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, dan 2 pemudi.

Sudah pukul 14.30 dan kami belum juga dipersilakan masuk, oh bahkan rombongan yang datang lebih dulu belum dipanggil. Tak berapa lama kemudian, masuklah penyanyi Ello dan salah satu member Slank, Ridho. Mereka langsung masuk ke ruangan tempat kami akan bertemu tahanan yang dijenguk nantinya. Pukul 14.40, rombongan yang sudah di dalam selama 20 menit keluar. Ternyata isinya personil Slank, kurang Abdee saja, Bunda Ivet pun datang. Slank memang dikenal sebagai salah satu pendukung tahanan ini. Menurut mereka, mereka akan dukung siapapun politikus yang menggaungkan pemerintahan yang bersih dan jujur. Rombongan bertujuh selanjutnya pun masuk. Kami menunggu lagi selama 20 menit. Tepat pukul 15.00, giliran kami untuk menitipkan HP dan tas di meja yang telah disediakan. Beberapa dari kami tetap membawa oleh-oleh untuk diberikan di dalam ruangan.

Ah, itu dia.

Pria berperawakan besar yang tingginya lebih kurang 30 cm daripada saya ini nampak juga. Dia menyalami kedua belas orang dari kami, satu per satu, sambil menanyakan kabar kami semua. Lah, harusnya kami duluan yang nanya soal kondisi bapak ini di dalam sel. Kesamaan dari kami saat itu, hanya bisa tersenyum sambil tercekat, tak ada suara yang muncul. Mata beberapa dari antara kami mulai merembes. Saya? Mencoba sebaik mungkin bertahan tanpa menangis, karena dilalah saya duduk tepat berseberangan dengan bapak ini. Oh, ya inilah Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, mantan bos kami di Balai Kota DKI Jakarta untuk kurang lebih 1,5 2 tahun, dan sekarang sedang menjalani hukuman penjara selama dua tahun. Hukuman yang seringkali masih membuat kami keki kalau mengingatnya.

Ruangan yang disediakan untuk menampung tamu itu layaknya ruang rapat yang bisa dipenuhi hingga 30 orang sekaligus. Suasananya nyaman, pakai AC, ada sofa dan kursi, satu meja panjang, dan dua meja bundar. Kami ditempatkan melingkari Bapak, di meja bundar, persis seperti suasana makan bersama Bapak di Bala Kota. Sebelum punya pikiran buruk, saya sampaikan bahwa Bapak ada di ruangan ini hanya saat dia menerima kunjungan tamu. Sisanya, Bapak ada di dalam sel atau di area sekitar sel yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Ada satu ajudan Bapak yang mengingatkan bahwa kami hanya punya waktu maksimal 20 menit. Setelah kami semua duduk, Bapak langsung mempersilakan kami yang tidak berpuasa untuk ambil botol air mineral. Tahu saja Bapak kalau kami haus selama menunggu (atau malah deg-degan).

"Mau ngomong apa nih? Ada yang mau tanya?"

Pertanyaan dari Bapak sontak membuyarkan lamunan singkat kami. Ternyata saking bingungnya, kami bahkan lupa untuk mulai berbincang dengan bapak. Akhirnya, salah satu staf memecah kebuntuan dengan satu pertanyaan awal, Bapak sekarang lagi baca buku apa? Dari situ, perbincangan dimulai. Alurnya mengalir seperti biasanya Bapak cerita. Ada naik dan turunnya. Ada sisi humornya. Sekian detik kami manggut-manggut, dan sesekali menyeka air mata. Nampaknya, Bapak yang saat itu memakai polo shirt cokelat dengan celana bawahan berwarna serupa maklum terhadap kami yang tetiba membisu. Tapi, saya melihat kelegaan dari wajah Bapak. Ada beban yang akhirnya bisa dibagikan dengan segerombolan mantan anak buahnya. Atau, mungkin sesimpel lega karena dia melihat timnya ini tetap solid meski sudah tak bekerja bersama lagi.

Bapak bercerita bahwa saat ini dia sedang membaca buku tentang tutur kata dan gaya komunikasi masyarakat Jawa. Kami langsung tertawa. Saya sendiri berpikir, apa yang mau dia dapatkan dari gaya ala Jawa ini? Semoga outputnya sih seperti Jokowi, bukan Soeharto. Rupanya Bapak mau coba memahami apa yang berbeda dari komunikasi orang Jawa sehingga dirasa selalu benar meski konten dialognya mungkin tak berisi. Setidaknya saya tahu bahwa Bapak masih punya keinginan untuk belajar hal-hal baru meski terkungkung. Selain itu, Bapak juga sedang belajar menulis dan membaca huruf Mandarin. Selama ini, Bapak hanya fasih berbicara Mandarin. Bapak sadar bahwa kemampuannya menguasai bahasa Mandarin secara menyeluruh dapat meningkatkan valuenya nanti setelah keluar dari penjara.

Namun, Bapak kadang mengeluh. Sukarnya menaklukkan Bahasa Mandarin membuatnya harus konsentrasi penuh menghafal setiap goresan huruf-huruf tersebut. Waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Makanya, kadang Bapak kepikiran untuk cepat-cepat menyudahi jam kunjungan supaya bisa menamatkan buku basic level Bahasa Mandarinnya. Sekarang, kata Bapak, dia bisa dengan asyik menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca. Waktu seolah-olah selalu berpihak padanya. Tak ada batasan waktu karena harus rapat, menulis surat disposisi, menghadiri berbagai pertemuan, ataupun sekedar pergi keluar dari tempat tinggalnya sekarang. Sekarang semuanya jadi kayak tanggal merah buat gue, katanya. Lalu, saya guyon membalas,

"Lah kita juga pak. Tenang aja."

(LOL. Sesungguhnya ini miris bercampur curcol)

Kegiatan lain yang Bapak gemar lakukan adalah berolahraga. Ada salah satu dari kami sempat memerhatikan massa otot tangannya. Nampaknya makin kekar, katanya. Benar saja. Bapak bilang, dia bisa berolahraga dua jam setiap pagi dan sore. Berbagai latihan dia lakukan: senam jantung, push up, sit up, latihan otot bawah untuk perkuat lutut, hingga pull-up. Tak lupa, Bapak menggunakan alat ukur detak jantung untuk mengontrol seberapa berat olahraga yang sudah dilakukan. Pull-up menjadi latihan favorit Bapak. Dia merasa keren, seperti Batman katanya. Tapi, saya rasanya alasan utamanya adalah untuk menakut-nakuti napi lainnya. Kata dokter di penjara, untuk bobot bapak yang mencapai 90 kg itu teorinya tak mungkin melakukan pull-up. Tapi, Bapak bisa. Bukan bapak jika tidak bisa mendobrak sesuatu dan menjadikannya lebih baik kan? Jadi, kata Bapak, para napi bisa lihat bahwa Bapak bukannya menjadi tak berdaya di sana, tapi sebaliknya.

Lalu, Bapak bercerita soal dirinya yang beradaptasi dengan suasana di dalam sel. Satu hingga dua minggu pertama, Bapak tidak bisa tidur. Rasanya seperti semua beton tembok ingin menghimpit dan menghancurkannya. Satu jam sekali Bapak terbangun dari tidurnya. Segala doa yang dipanjatkan tak mempan juga. Hanya bisa pasrah menunggu fajar tiba dan pintu sel terbuka, baru bapak bisa bernapas lega. Pernah satu malam, dada Bapak terasa sesak. Bapak tahu itu bukan serangan jantung karena dia tak berkeringat dingin. Bapak sempat panik dan meneriaki penjaga sel yang terlelap. Tapi, Bapak menolak dipanggilkan dokter. Dia tahu fisiknya baik-baik saja. Namun hati dan pikirannya tidak. Belakangan Bapak tahu, itu adalah serangan wajar untuk napi yang baru dijebloskan ke dalam penjara. Bapak banyak belajar dari para napi lainnya untuk berdamai dengan kehidupan baru mereka ini.

Bapak ditempatkan di salah satu sel terdepan yang ada di Mako Brimob, letaknya dekat dengan gedung Provost, tempat Bapak menerima kunjungan. Di sana ada empat sel yang masing-masing berukuran 4 meter x 3 meter. Biasanya yang menempati adalah polisi yang terseret kasus kriminal. Brotoseno (suami Angelina Sondakh) menjadi salah satu penghuninya. Kebetulan sel yang ditempati Bapak dekat dengan salah satu ruangan kantor Provost, jadi kadang dia sempat kena sedikit-sedikit angin surga dari pendingin ruangan yang terpasang di sana. Di dalam sel Bapak ada kasur, meja kecil, dan kamar mandi seadanya. Ruangan selnya mirip seperti ruangan sel untuk tahanan KPK (tapi bukan versi upgrade hasil sogokan pejabat korup). Bapak senang sekali ketika tahu ada meja di sana. Dia bisa menulis kerangka buku yang sedang dia susun, serta membalas surat-surat warga yang datang. Satu yang Bapak tidak sukai.

"Gue sebenarnya paling gak tahan sama kamar mandinya."

Ukuran kamar mandinya persis untuk menampung badan Bapak dengan disisakan jarak kurang dari sejengkal kalau Bapak bergerak. Di depannya, ada kloset seadanya. Lantai kamar mandi yang tak bersekat dengan lantai kamar membuat Bapak harus berkali-kali mengelap lantai agar air tak mendekati kasurnya. Bapak tak tahan becek. Hal yang membuatnya paling sepi adalah saat-saat dirinya duduk di kloset. Jika dia berada di rumah, Bapak akan langsung menyetel televisi. Kali ini tak ada TV, tak ada satu pun alat elektronik. Letak kloset yang langsung menghadap ke arah meja juga sempat membuat dirinya tak nafsu makan. Satu lagi, pada awal-awal dirinya menginap di hotel prodeo itu, dia belum terbiasa dengan keterbukaan kamar mandi di tiap sel.Motto gue emang transparan, tapi kalau kamar mandi juga transparan, aduh.. malu gue, guyon Bapak. Ya, saat ini Bapak bahkan sudah bisa membuat candaan dengan kondisinya sendiri.


Malam sebelum kami menjenguk rupanya serangan sesak itu datang lagi. Sekarang Bapak sudah bisa mengatasinya. Modalnya satu, ikhlas. Kata Bapak, rasa sesak selalu menyerangnya setiap kali dia berpikir keras soal ketidakadilan yang diterimanya. Namun, sesak itu hilang dengan sendirinya ketika dirinya langsung berserah kepada Tuhan terhadap hidupnya di dalam penjara. Jujur, kata Bapak, rasa keki itu selalu ada. Benar adanya bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Maka, Bapak menunjukkan level keimanannya sendiri dengan perbuatan-perbuatan yang bisa dia lakukan di dalam penjara. Itung-itung menjaga kadar kewarasan seorang napi tak biasa yang masih terus coba digerus pihak luar meski dirinya sudah dijebloskan ke penjara. Bapak juga bilang bahwa kami tak boleh menyimpan amarah terlalu lama agar hidup kami ke depannya bisa lebih lega dan kami bisa berbuat optimal dalam segala pekerjaan kami. Kata Bapak, kami harus memikirkan hari-hari depan. Berbeda dengannya yang tidak perlu meikirkan hari-hari depan. Menurut pengalaman para napi, hal yang harus dipikirkan adalah apa yang mau diperbuat hari ini. Karena jika memikirkan hari esok, pikiran akan terhimpit dengan kenyataan bahwa besok mereka masih di dalam penjara. Ternyata, kesusahan sehari hanya cukup sehari benar adanya.

Terakhir, makanan tetap menjadi obat jitu bagi Bapak. Misalnya, Bapak sebenarnya kesal ketika ada pejabat yang ujug-ujug datang di malam hari untuk mengobrol ngalor-ngidul, padahal Bapak ingin istirahat. Tapi, kekesalannya terobati ketika mereka membawakan makanan kesukaan Bapak: pempek, durian, atau cokelat misalnya. Saat kami berkunjung, Bapak sedang ingin makan martabak. Saya sudah menyuruh salah satu teman untuk sebelumnya membelikan martabak, eh dia malah beli durian. Akhirnya, usai kunjungan, saya dan beberapa teman membeli martabak ovomaltine dan martabak keju kesukaan bapak, ditambah martabak telor daging sapi mozzarella sebagai bonus. Sukur-sukur martabak telornya bisa untuk tambahan lauk sarapan. Bapak sebenarnya ingin makan sushi dan sashimi dari Sushi Masa, tapi sepertinya Bapak sadar sendiri bahwa sushi-sushi itu akan keburu rusak ketika sampai di Depok. Jadi, dia hanya tertawa miris saja sambil membayangkan rasanya.

Tak ada satu pun dari kami yang update soal film terbaru di bioskop, lagu terbaru saat ini, restoran seafood baru yang sedang digandrungi orang, ataupun gossip terkini. Kami sadar bahwa semakin banyak Bapak tahu tentang dunia luar, semakin ada keinginan Bapak untuk keluar secepatnya. Padahal, itu mungkin tak baik bagi psikisnya. Pesan terakhir dari Bapak hanya satu: Tolong bilang sama pengunjung, dari agama apapun, kalau mau cerita soal nabi, jangan soal Nabi Yusuf terus. Saya sampai bosan. Nabi kan ada banyak. Saya pun membalas:

Yola: "Yaudah pak, Bapak aja yang ceritain balik ke mereka soal tokoh-tokoh yang Bapak baca dari buku. Ini saya bawakan Bapak buku seri tokoh Tempo: Sjahrir. Bapak bisa cerita soal Sutan Sjahrir, salah satu tokoh bangsa, dengan integritas tinggi dan ketangguhannya yang mampu menggoyang podium internasional untuk memberitakan bahwa Indonesia telah merdeka."

Bapak: "Sjahrir bukannya mati di penjara? Waduh"

Yola: (cepat-cepat saya membalas) "Eh buset bukan pak. Beliau mati di Zurich karena sakit. Pembuluh darahnya pecah di otak pas nonton berita bahwa Soeharto naik jadi Presiden."

Bapak: "E gileee. Oke deh ntar gua baca. Makasih ya."

Satu concern Bapak yang belum terjawab. Bapak kangen melayani warga Jakarta. Kata Bapak, melayani warga itu sudah menjadi passion dan hobi dia. Tak pernah ada rasa bosan menjalaninya. Itu satu-satunya hal yang belum bisa dia atasi hingga kini. Kamu tahu bagaimana menjawab pertanyaan Bapak yang ini:

Kapan ya saya bisa kembali bermanfaat bagi orang banyak?

Sumber: Berantai.com
Read More
Datang Minta "THR", Dikasih 50 Ribu Eh Malah Marah, Maki-Maki, Ngancam Hingga Anarkis

Datang Minta "THR", Dikasih 50 Ribu Eh Malah Marah, Maki-Maki, Ngancam Hingga Anarkis


CeriaNews.com -Gara-gara permintaan Tunjangan Hari Raya (THR) tidak dituruti oleh pemilik toko klontong, puluhan oknum yang mengaku anggota Ormas di Tangerang Selatan mengamuk, Minggu, (27/06/2016) malam.

Dengan mengunakan senjata tajam, oknum anggota ormas itu melampiaskan kemarahannya dengan merusak sebuah toko kelontong yang berada di Jalan Sumatera, RT 04 RW 10, Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan.

Pemilik Toko Klontong, Hosnul Yakin (29) menuturkan, kejadian bermula saat dua orang pelaku datang mengantarkan surat (proposal.red) permohonan dana THR.

Karena menganggap hanya sumbangan biasa, Hosnul kemudian memberikan uang sebesar Rp.50 ribu. Karena merasa jumlahnya sedikit, kedua anggota Ormas itu tidak terima, alhasil kedua orang tersebut pun marah dan memaki-maki korban sambil mengeluarkan nada ancaman dan akan kembali datang.

Karena khawatir, Hosnul berinisiatif melaporkan kejadian itu pada Ketua RT setempat, Hamin. Selang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 21:00 WIB, tiba-tiba datang puluhan orang bersenjata tajam dan tanpa basa-basi langsung melakukan perusakan terhadap toko kelontong milik Hosnul Yakin.

“Mereka nggak terima saya kasih Rp.50 ribu, terus mengancam kalau mau aman bayar Rp.500 ribu,” tutur Hosnul Yakin saat melaporkan perusakan dan pemerasan itu ke Mapolsek Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (28/6/2016) siang.

Akibat aksi anarkis itu kaca etalase, tabung elpiji, botol bensin dan barang dagangan milik hosnul hancur berantakan. Sementara saat peristiwa terjadi tak ada satupun warga yang berani melerai. Bahkan Ketua RT setempat yang menyaksikan kejadian tersebut tak mampu berbuat apa-apa. “Mereka terus ngancam kalau belum ngasih uang sebesar itu bakal terus nggak aman,” tandas Hosnul.

Merasa terancam Hosnul yang didampingi mertuanya, Rahwini (54) melaporkan kasus itu ke Mapolsek Ciputat.

Sementara, Kapolsek Ciputat, AKP. Tatang Syarif saat dikonfirmasi mengatakan akan segera menindak para pelaku pengerusakan tersebut. Namun terlebih dahulu, pihaknya akan melakukan pengecekan ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Nanti kita tindak lanjuti. Saat ini petugas kita akan langsung mengecek ke TKP,” ujar Kapolsek.

(Bambang Tejo)citranewsindonesia
Read More